Wabup Malang Hadiri Rukyatul Hilal 1 Zulhijjah 1447 Hijriyah

▪︎ MALANG – POSMONEWS.com,-
Wakil Bupati Malang, Lathifah Shohib menghadiri kegiatan Rukyatul Hilal penentuan awal 1 Zulhijjah 1447 Hijriyah/2026 Masehi, Minggu (17/5) petang. Kegiatan tersebut digelar di Pendopo Kabupaten Malang, Jalan Panji Nomor 158, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang.
Rukyatul Hilal dilaksanakan sebagai bagian dari proses penentuan awal Bulan Zulhijjah yang menjadi dasar penetapan Hari Raya Iduladha 1447 Hijriyah. Kegiatan ini turut dihadiri jajaran Forkopimda, Kementerian Agama, tokoh agama, serta sejumlah pihak terkait lainnya.
Dalam sambutannya, Wabup Malang menyampaikan bahwa masyarakat Indonesia khususnya umat Islam dalam menjalankan ibadah selalu berkaitan dengan penentuan waktu, seperti ibadah shalat, puasa Ramadhan, zakat fitrah hingga ibadah haji. Oleh karena itu, penentuan awal Bulan Qomariyah memiliki peranan penting dalam kehidupan umat Islam.
Ia menjelaskan, di Indonesia dikenal tiga sistem penetapan awal Bulan Qomariyah, yakni sistem hisab, rukyat, dan imkanur rukyat. Sistem hisab dilakukan berdasarkan perhitungan posisi hilal setelah terjadinya ijtima’ atau konjungsi. Sementara sistem rukyat dilakukan dengan melihat hilal secara langsung pada tanggal 29 akhir bulan, dan apabila hilal tidak terlihat maka bulan berjalan disempurnakan menjadi 30 hari.
Adapun sistem imkanur rukyat merupakan metode yang menggabungkan hisab dan rukyat sebagai dua komponen yang saling melengkapi. Menurutnya, rukyat tidak dapat dilaksanakan tanpa data hisab, begitu pula data hisab perlu dibuktikan melalui pelaksanaan rukyat.
“Kriteria yang menjadi dasar penentuan masuknya bulan baru dalam sistem imkanur rukyat di antaranya tinggi hilal minimal dua derajat, umur hilal minimal delapan jam setelah konjungsi, dan sudut hilal-matahari minimal tiga derajat,” jelasnya.
Lebih lanjut, Wabup Malang menuturkan bahwa perbedaan yang kerap terjadi dalam penentuan awal Bulan Qomariyah bukan disebabkan oleh sistemnya, melainkan karena perbedaan ukuran posisi hilal yang dijadikan acuan. Untuk itu, ia mengimbau agar perbedaan tersebut tidak dijadikan persoalan yang dapat memecah persatuan umat Islam.
“Mari kita mengedepankan toleransi, saling menghormati keyakinan masing-masing, serta menjaga ukhuwah Islamiyah agar tetap harmonis dan dinamis,” ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, ia juga mengajak masyarakat menjadikan momentum Bulan Dzulhijjah dan Hari Raya Iduladha sebagai sarana mempererat rasa kebersamaan, persatuan, dan kepedulian sosial melalui semangat berbagi dan gotong royong dalam pelaksanaan ibadah kurban. Menurutnya, nilai-nilai kepedulian sosial tersebut perlu terus dibudayakan dan dikembangkan dalam kehidupan bermasyarakat.▪︎(AHM/Dhe)
