Kegiatan Workshop Penuh dengan Kepentingan Sesaat
▪︎MALANG – POSMONEWS.com,-
Kegiatan workshop diikuti seluruh guru di SMP Negeri 4 Kepanjen, Kabupaten Malang, Komite, Inspektorat juga sekretaris Dinas Pendidikan, Kamis (24/1/2025) lalu.
Workshop ini pada dasarnya atas laporan terkait tidak transparan dan kongkali-kong kepala sekolah dan bendahara komite dengan SK kepala sekolah, sebagaimana tulisan sebelumnya.
Narasumber workshop menurut informasi dari sekretaris dinas dan inspektorat terkait penguatan kelembagaan.
Dimana dasar workshop UU no 20 tahun 2003, PP No. 19 Tahun 2005 dan telah di ubah dengan PP no. 13 tahun 2015. Permen No. 36962/PMK.A/HK/2020.
Dimana pada dasarnya workshop tersebut akan di rubahnya SMPN 4 Kepanjen menjadi sekolah Unggulan di Kabupaten Malang.
Dengan adanya workshop penguatan kelembagaan di harapkan memperkuat guru di era pendidikan, transformatif atau perubahan dalam bidang pendidikan.
Menurut Hamzah KHYI “workshop boleh dilakukan sepanjang untuk kepentingan siswa sekolah”. Hal tersebut juga di benarkan oleh Dewan Pendidikan “ya jika untuk kepentingan siswa boleh, karena dananya dari sekolah atau sumbangan dari komite/pencari dana workshop”.
Menurutnya ya aneh juga jika SMPN 4 Kepanjen ini ada klas digital yang nota benya hanya di pilih sebagian saja juga yang orang tua/wali murid yang berduwet/mampu?
Saat konfirmasi ke Dinas kebetulan yang hadir Sekretaris Dinas, membenarkan bahwa kemarin itu workshop dan yang mengundang adalah komite, juga dihadiri dari pihak inspektorat 2, dan inti dari workshop adalah penguatan kelembagaan.
Saat wawancara apa juga membahas terkait kongkalikong antara komite dan kepala jawabnya singkat tidak.
Pengembangan diri terutama dalam mengimplementasikan kurikulum memang perlu, tapi apa klas digital juga perlu di anak usia wajib sekolah 9 tahun.
“Saya setuju jika hanya ekstrakurikuler di sekolah menurut dewan pendidikan,” katanya.
Menurut sumber yang tidak tersedia di sebut namanya mengatakan klas digital yang ada sekarang ini hanyalah ajang mencari uang penggagasnya.
“Dan perlu juga di pertanyakan dari mana dana workshop tersebut sehingga semua murid di buat daring/ belajar di rumah apa iya la semuanya workshop kok ada pembelajaran daring,” katanya.▪︎(AHM)

