Bupati Malang Membuka Workshop Tradisi Bantengan

98 dibaca

▪︎MALANG – POSMONEWS.com,-
Bupati Malang, Drs.H.M Sanusi,MM menyerahkan Secara simbolis Dana Hibah Dewan Kesenian Kabupaten Malang (DKKM) Tahun 2024 dan Membuka kegiatan workshop bantengan di Pendopo Kepanjen, Sabtu (8/6) pagi.

Pada sambutannya, menyampaikan Kesenian Bantengan ini harus tetap di lestarikan. pertunjukan Kesenian Bantengan menjadi sebuah kesenian yang tetap memegang teguh tuntunan dan tatanan sebagai wujud keluhuran budaya, Kedepan harapannya Kesenian Bantengan ini akan di daftarkan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), Festival Bantengan Tahunan.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang menyampaikan Bantengan ini dinikmati banyak orang, jadi bagaimana kita untuk mengembangkan kesenian ini agar tidak salah kaprah dan diharapkan memberikan kesadaran kepada kita sebagai masyarakat Kabupaten Malang agar menjaga marwah bantengan.

“Untuk itu Disparbud Kabupaten Malang akan membuat Surat Edaran Bupati tentang Kesenian Bantengan,: tutupnya.

Seperti diketahui Kesenian Tradisional Bantengan adalah sebuah seni pertunjukan budaya tradisi yang berasal dari Jawa Timur yang menggabungkan unsur sendratari, olah kanuragan, musik, dan syair/mantra yang sangat kental dengan nuansa magis.

Permainannya akan semakin menarik apabila telah masuk tahap trans yaitu tahap pemain pemegang kepala Bantengan menjadi kesurupan arwah leluhur Banteng (Dhanyangan).

Kesenian Tradisional Bantengan yang telah lahir sejak jaman Kerajaan Singasari (situs Candi Jago – Tumpang Malang) sangat erat kaitannya dengan Pencak Silat. Walaupun pada masa itu bentuk kesenian bantengan belum seperti sekarang, yaitu berbentuk topeng kepala Bantengan yang menari. Gerakan tari yang dimainkan mengadopsi dari gerakan Kembangan Pencak Silat.

Kesenian tradisional ini berlanjut pada masa Pemerintah Kolonial Belanda terdapat seorang tokoh bernama Mbah Siran yang membuat topeng Bantengan dari tanduk banteng.

Di Desa Claket Kecamaten Pacet Kabupaten Mojokerto. Pada masa Orde Lama Kesenian Tradisional Bantengan bermunculan di berbagai daerah pegunungan di Jawa Timur.

Saat ini Kesenian Tradisional Bantengan sudah berkembang diberbagai Kabupaten/Kota, antara lain Kabupaten Mojokerto, Kota Malang, Kota Batu, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Kediri, dan Kabupaten Pasuruan.

Data Tahun 2018 dari Dinas Pariwisata Kota Batu terdapat kurang lebih 200 grup kesenian Bantengan, sedangkan data Dinas Pariwisata Kabupaten Pasuruan tercatat di Nomor Induk Kesenian berjumlah 12 paguyuban, padahal fakta di lapangan terdapat ratusan paguyuban. Melalui wawancara dengan sesepuh Paguyuban Pencak Silat Macan Putih di Dusun Ngadipuro Desa Wonosari Kecamatan Tutur Kabupaten Pasuruan, beliau merintisnya sejak tahun 1962 dan berkembang sampai saat ini.

Di setiap Kabupaten/Kota terdapat banyak paguyuban yang mengelola dan mengembangkan dalam bentuk Pertunjukan maupun Festival Bantengan. Bahkan di Kabupaten Mojokerto sudah menerbitkan Buku Teks Kesenian Bantengan untuk Sekolah Dasar Kelas IV, V, dan VI dengan tujuan mengembangkan dan melestarikan Kesenian Tradisional Bantengan.

Dalam sebuah pementasan Kesenian Tradisional Bantengan yang sarat dengan nilai, makna, dan fungsi. Diperlukan penyajian yang lengkap dalam sebuah pementasan meliputi : gerak yang mirip dengan banteng, busana, iringan musik, properti, tempat pementasan(biasanya di lapangan), pawang/tetua/pendekar/sesepuh (masing-masing daerah menggunakan sebutan yang berbeda),dan sesaji.

Permainan Kesenian Tradisional Bantengan dimainkan oleh dua orang yang berperan sebagai kaki depan sekaligus pemegang kepala Bantengan dan pengontrol tari Bantengan serta kaki belakang yang juga berperan sebagai ekor Bantengan. Kostum bantengan biasanya terbuat dari kain hitam dan topeng yang berbentuk kepala kepala banteng yang terbuat dari kain hitam dan topeng yang berbentuk kepala banteng yang terbuat dari kayu serta tanduk asli banteng.

Kabupaten Mojokerto, Kota Malang, Kota Batu, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Kediri dan Kabupaten Pasuruan (khususnya daerah pegunungan).

Berhubung hewan banteng terutanma Banteng Jawa semakin sulit ditemukan, maka kepala dan tanduk sekarang lebih banyak digunakan adalah kayu dan tanduk dari sapi dan juga kerbau yang sudah mati.

Disamping kedua pemain masih ditambah dua orang lagi sebagai pemegang tali kekang yang berguna untuk mengendalikan pemain Bantengan yang sudah kesurupan.

Kesenian Tradisional Bantengan merupakan kesenian komunal yang melibatkan banyak orang dalam setiap pertunjukannya, seperti halnya sifat kehidupan banteng yang hidup berkelompok (koloni).

Kebudayaan Bantengan ini membentuk perilaku masyarakat yang menggelutinya untuk selalu hidup dalam keguyuban, gotong royong, dan menjunjung tinggi rasa persatuan dan kesatuan.

Dalam Kesenian Tradisional Bantengan memiliki fungsi, makna, maupun nilai. Dilihat dari fungsinya terdapat fungsi Eksternal maupun Internal. Fungsi Eksternal, yaitu fungsi kesenian Bantengan pada masyarakat awam atau pada umumnya sebagai bagian dari kesenian daerah atau tontonan kesenian kebudayaan daerah setempat.

Sedangkan fungsi internal, yaitu fungsi kesenian Bantengan pada masyarakat tertentu, yang memang mengembangkan kesenian tersebut (Arista Yosi Antiar, 2015:22).

Makna dari Kesenian Tradisional Bantengan menurut Wiwik Istianah melalui karya tulis berjudul ‘Tari Bantengan dalam Upacara Tolak Balak di Kabupaten Mojokerto” tahun 2017 dapat ditinjau dari pagelaran, alat perlengkapan, dan sesaji.

Ditinjau dari pagelaran akan terlihat sebuah pertarungan yang menggambarkan kekuatan Sang Pendekar yang memiliki ilmu yang tinggi dan dihormati oleh warga desa sebagai panutan mereka.

Ditinjau dari alat perlengkapan merupakan simbol keharmonisan atau keselarasan hidup manusia di dunia. Ditinjau dari sesaji memiliki makna persaudaraan antara warga dan sebagai penghormatan bagi leluhur atau nenek moyang dan makanan bagi orang yang kesurupan.

Menurut Ruri Darma Desprianto, dalam Kesenian Bantengan Mojokerto Kajian Simbolik dan Nilai Moral, tahun 2013 menjelaskan bahwa banyak nilai yang terkandung dalam Kesenian Tradisional Bantengan. Nilai tersebut meliputi nilai kebersamaan atau gotong royong, nilai keindahan, nilai kebenaran, nilai kebaikan, nilai tanggung jawab, nilai religius, nilai kepercayaan, serta nilai keburukan dan kejahatan. Berdasarkan hasil pementasan Kesenian Tradisional Bantengan baik ketika di panggung maupun saat arak-arakan ditemukan adanya nilai-nilai moral yang bermanfaat bagi kebudayaan.

Kesenian Tradisional Bantengan Jawa Timur dipentaskan dengan tujuan sakral, tolak balak, melestarikan seni budaya tradisional, dan menghormati leluhur nenek moyang. Untuk lokasi pendukung kesenian ini berada di daerah pegunungan Bromo Tengger Semeru, Arjuno-Welirang, Penanggungan (Pacet), Kawi, dan Raung-Argopuro(Ruri Darma Desprianto, 2013:154).▪︎[AHM]