Kementerian PUPR Resmikan Sabo Dam Senilai Rp 20 Miliar

▪︎MAGELANG-POSMONEWS.COM,-
Pembangunan proyek Sabo DAM menghabiskan anggaran Rp 20 miliar dilengkapi dengan jembatan menghubungkan dua desa, saluran irigasi dan lokasi wisata sudah rampung. Bagian Sabo DAM masuk wilayah Desa Ngrajek dilengkapi dengan taman.
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), telah meresmikan Sabo DAM di aliran Sungai Pabelan, wilayah Desa Menayu, Kecamatan Muntilan dan Ngrajek, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Rabu (21/12/2022) lalu.
Kemudian, ada tiga gazebo yang dibangun serta dilengkapi dengan food court.
Tak hanya itu, Sabo DAM juga difasilitasi food court yang berada di wilayah Menayu maupun Ngrajek.
Kemudian ada juga tempat parkir untuk sepeda motor maupun mobil pribadi. Alhasil, lokasi ini cocok sekali untuk wisata keluarga.
Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak, Dwi Purwantoro, mengatakan Sabo DAM di Sungai Pabelan ini berfungsi sebagai penahan sedimen dari Gunung Merapi.
“Alhamdulillah, pada hari ini dalam rangka peresmian Sabo DAM di Sungai Pabelan sama tanam pohon. Total biaya yang digunakan untuk membangun ini (Sabo DAM) kurang lebih sekitar Rp20 miliar,” kata Dwi.
Sabo DAM ini, kata Dwi, selain berfungsi sebagai penahan sedimen dari Gunung Merapi juga untuk jembatan penghubung antara Desa Menayu dan Ngrajek atau sebaliknya. Kemudian juga untuk irigasi lahan pertanian warga.
“Yang selama ini irigasi masih menggunakan pompa dengan dibangunnya Sabo DAM ini masyarakat bisa menikmati baik jembatannya, Sabo DAM untuk menahan sedimen dan yang terakhir untuk irigasi pertanian,” ujarnya.
Pembangunan proyek Sabo DAM berlangsung sekitar 6 bulan dan dimulai sekitar bulan Maret 2022 lalu.
Sabo DAM ini, kata Dwi, selain berfungsi sebagai penahan sedimen dari Gunung Merapi juga untuk jembatan penghubung antara Desa Menayu dan Ngrajek atau sebaliknya. Kemudian juga untuk irigasi lahan pertanian warga.
“Yang selama ini irigasi masih menggunakan pompa dengan dibangunnya Sabo DAM ini masyarakat bisa menikmati baik jembatannya, Sabo DAM untuk menahan sedimen dan yang terakhir untuk irigasi pertanian,” ujarnya.
Keberadaan Sabo DAM dibangun bukan hanya berfungsi sebagai penahan sedimen maupun irigasi, juga untuk wisata.
“(Wisata) Memang sekarang kan arahan dari Bapak Presiden maupun Bapak Menteri PUPR bahwa bangun itu tidak cuma satu fungsi, kalau bisa multifungsi, walaupun fungsi utamanya mengendalikan sedimen sudah tercapai. Itu bisa ditingkatkan, kita tidak mungkin membangun Sabo DAM saja ternyata dengan menambah sedikit gelagar bisa untuk jembatan,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Menayu, Arwanto, mengatakan pembangunan Sabo DAM ini diusulkan pada bulan Maret tahun 2020 yang lalu. Kemudian usulan tersebut pada tahun 2022 direalisasikan dengan dilakukan pembangunan.
“Sabo DAM yang manfaat kegunaannya satu juga bisa mengaliri sawah. Karena dibangun intake kanan dan kiri, sisi barat itu mengaliri untuk wilayah Progowati kurang lebih 60 hektar. Sisi timur, bagian selatan ada intake irigasi bisa mengaliri wilayah Adikarto kurang lebih 50 hektar. Alhamdulillah dengan dibangunnya ini juga ada food court, taman,” ujarnya.
“Yang dulunya tanahnya tidak bisa dimanfaatkan karena waktu itu terjadi lahar dingin dan Alhamdulillah dengan dibangunnya ini bisa dimanfaatkan untuk menambah perekonomian warga masyarakat Menayu dan Ngrajek. Alhamdulillah untuk akses kedua antara Desa Menayu Kecamatan Muntilan dan Desa Ngrajek Kecamatan Mungkid sudah nyambung,” tuturnya.
Sebelum ada jembatan ini, kata dia, baik warga Menayu maupun sebaliknya Ngrajek harus memutar sejauh 3 km melalui kawasan Srowol. Sedangkan jika melalui Tamanagung Muntilan, lebih jauh lagi sekitar 3,5 km.
“Pengembangan wisata, Sabtu dan Minggu banyak masyarakat menggunakan untuk selfie, berdagang, untuk pariwisata warga masyarakat sekitar Menayu dan Ngrajek, sudah berjalan,” pungkasnya.▪︎[FEND]