Adu Kesaktian dengan Mbok Rondo

Karomah Kiai Boyo Pati (Syeh Abdus Shomad) Desa Medang, Glagah, Lamongan, Jatim (3)
Dikisahkan ada seorang putri cantik termenung di tepian pantai pesisir Lamongan. Putri tersebut berasal dari Desa Terbis yang juga termasuk daerah Lamongan. Bagaimana kisahnya?
PADA saat itu pula datanglah seorang pemuda tampan yang menghampirinya serta ingin mempersuntingnya menjadi istrinya. Putri tersebut setuju dengan ucapan pemuda itu dan menikahlah mereka serta hidup bahagia.
Pernikahan itu pun membuahkan anugrah, mereka hidup bahagia sang istri hamil dan akan segera mempunyai anak. Pemuda itu sangat bahagia, tapi beliau tidak dapat menyambut kelahiran anaknya karena sedang mengemban tugas pergi keluar dari Lamongan.
Sebelum pergi dari Lamongan, pemuda tersebut berwasiat kepada sang istri.”Kelak anak kita akan lahir laki-laki dan jangan beri nama apapun kecuali nama Boyo Pati,” katanya kepada istrinya.
Sang istri pun menuruti apa yang sudah diwasiatkan oleh sang suami. Tak lama dari kepergian suaminya, akhirnya wanita itu melahirkan seorang anak laki-laki. Dan, putranya diberi nama Boyo Pati.
Boyo Pati pun tumbuh menjadi seorang pemuda tampan. Sang ibu pun memanjakanya, tapi Boyo Pati bertekat ingin mencari ilmu atau berguru pada Sunan Giri di daerah Gresik.
Boyo Pati berharap ibunya merestuinya, karena tekat anaknya begitu besar, sang ibu pun merestui kepergian anaknya untuk berguru kepada Sunan Giri. Boyo Pati pergi ke Gresik berniat “mengaji” dan nyantri di Sunan Giri.
Saat itu Sunan Giri menyambut muridnya ini dengan senang hati. Tak lama pengabdianya menjadi murid, Sunan Giri memberi tugas Boyo Pati untuk mengambil kerisnya yang bernama Korowelang yang sudah dipinjam oleh Mbok Rondo (Nyi Lurah) di daerah Lamongan.
Sekitar tahun 1400-an ketika itu ada seorang Nyi Lurah meminjam keris Sunan Giri untuk mencegah huru hara atau konflik sekaligus menjaga kewibawaanya di wilayah sekitar Lamongan.
Kanjeng Sunan Giri pun memberikan kerisnya kepada Mbok Rondo tersebut dengan beberapa syarat; keris itu tidak boleh dibuat untuk kekerasan, atau membunuh rakyat. Sunan Giri berpesan, bila huru hara itu sudah selesai, maka keris tersebut harus segera dikembalikan kepada Kanjeng Sunan Giri setelah tujuh bulan purnama.
Akhirnya Nyi Lurah berhasil mewujudkan cita-cita dan harapanya. Tujuh purnama pun terlewatkan, namun belum ada tanda-tanda Nyi Lurah untuk mengembalikan pusaka milik Kanjeng Sunan Giri.
Kanjeng Sunan Giri gelisah, khawatir Nyi Lurah penyalahgunaan terhadap pusaka yang dipinjamnya. Kemudian Sunan Giri mengutus Boyo Pati untuk menemui Nyi Lurah agar segera mengembalikan pusaka keris Korowelang yang telah dipinjamnya.
Karena pengabdian begitu besar kepada gurunya, Boyo Pati pun melaksanakan apa yang sudah “dititahkan” Sunan Giri. Boyo Pati pun berangkat ke Lamongan untuk menemui Nyi Lurah.
Karena Boyo Pati kelahiran Lamongan, dia sangat faham betul jalan-jalan di daerah Lamongan. Boyo Pati lahir di daerah pesisir Lamongan (sekarang diberi nama Paciran). Pada saat itu wilayah Lamongan masih terdiri dari alas (hutan) yang lebat di kiri kanan jalan kecil yang menghubungkan antara Gresik dan Lamongan.
Boyo Pati tidak mengalami rintangan dalam menghafal jalan untuk menuju ke Lamongan. Singkat cerita sampailah Boyo Pati ke kediaman Nyi Lurah, beliau disambut baik oleh Nyi Lurah sesampai di Lamongan.
Kemudian Boyo Pati menyampaikan “titah” kanjeng Suna Giri. Namun Nyi Lurah tidak mau memberikan pusaka kepada Boyo Pati. Nyi Lurah sudah janji pada Sunan Giri bahwa dia sendiri yang akan datang mengembalikan keris pusaka kepada Kanjeng Sunan Giri.
Boyo Pati merasa ditugasi untuk mengambil keris pusaka kanjeng Sunan Giri. Akhirnya Boyo Pati mengalah dan menunggu janji Nyi Lurah. Boyo Pati tidak pulang ke Sunan Giri, dia berniat memantau apa yang dilakukan Nyi Lurah selama tujuh hari.
Boyo Pati mulai curiga dan melihat Nyi Lurah tidak ada niat baik untuk mengembalikan keris itu kepada Sunan Giri. Setelah ditunggu selama tujuh hari tujuh malam dan tidak ada tanda-tanda Nyi Lurah mengembalikan keris itu. Akhirnya Boyo Pati pun beraksi. Beliau khawatir tidak bisa mengemban amanat yang sudah diperintahkan kanjeng Sunan Giri. Lalu apa yang dilakukan Boyo Pati untuk merebut keris Korowelang dari tangan Nyi Lurah? (zubairi indro)