Ibarat Daun Jatuh
▪︎Oleh : Hayan Chandra
TRAGEDI Stadion Kanjuruhan Malang awal Oktober lalu, pastilah berbekas duka. Mendalam bahkan. Seratus orang lebih meregang nyawa karenanya.
Kejadiannya sangat cepat.
Sesingkat daun jatuh dari pepohonan. Tak ada yang mengira. Tidak pula ada yang memprediksi.
Bila itu dikaitkan dengan Kuasa Yang Maha Kuasa, tak satupun yang berdaya menolak. Tidak pula ada kekuatan lain yang bisa menghalang.
Kini, puing kehancuran membekas. Aparat penegak hukum getol mencari tahu penyebabnya.
Untuk sementara waktu, penentu kebijakan tingkat wilayah, yang dianggap bertanggungjawab, dinon-aktifkan. Kapolres Malang salah satunya.
Dia harus legowo ‘melepas’ jabatan. Sejumlah anggota polisi kini juga tengah diperiksa. Pun pula sejumlah anggota TNI. Semoga segera selesai.
Yang membuat saya terharu, rasa empati datang dari hampir semua lapisan. Pecinta bola dunia diantaranya. Penandanya, dalam event pertandingan internasional, mereka luangkan waktu menghening cipta.
Teranyar, Senin (3/10), tepatnya di Monument Tugu Pahlawan Surabaya, berbagai elemen masyarakat, berbaur berpanjat doa bagi korban Kanjuruhan.
Polisi berseragam Dinas, ulama, masyarakat sipil bahkan Bonekmania, terhanyut kehidmatan dalam kesedihan. Mereka berdzikir dan berdoa agar Tuhan memberikan yang terbaik.
“Ibarat Daun Jatuh, saat mana dia jatuh dan menghadap kemana ketika sampai di tanah, hanya Allah SWT yang Maha Tahu dan Maha Menentukan,” gumam seorang Ulama.
***
Penulis adalah Wartawan posmonews.com



