Berita Utama

Pakar Konstruksi ITS Mewarning Keberadaan Jembatan Suramadu

▪︎JATIM – POSMONEWS.com,-
Proyek Jembatan Suramadu merupakan jempatan terpanjang di Indonesia. Jembatan yang membelah Selat Madura dengan Surabaya, Jawa Timur, tersebut dibangun sejak tahun 2003 dan diresmikan pada 2009.

Hingga saat ini tahun 2024, Jembatan Suramadu telah telah dioergunakan untuk mempermudah akses ke Pulau Madura. Dari perhitungan usia, Jembatan Suramadu sudah memasuki usia 21 tahun sejak pertama dibangun, atau 15 tahun sejak resmi dioperasikan.

Seperi dikutip dari situs detikJatim.com bahwa pakar Konstruksi ITS, Dr. Ir. Mudji Irmawan, menyampaikan sejumlah peringatan terkait aspek kerusakan yang mungkin bisa terjadi terhadap Jembatan Suramadu.

“Dampak paling krusial dan yang paling penting diperhatikan adalah pada balok. Balok ini kalau mengalami kerusakan bisa menyebabkan ambruk salah satu bentangnya. Apabila ada kerusakan sedikit pun bisa menyebabkan elemen strukturnya melemah,” ujar Mudji.

Mudji menjelaskan apabila ada retakan pada jembatan juga tentu akan berdampak sangat fatal. Karena itu dia mengingatkan pihak pengelola perlu memperhatikan dan melakukan pemeriksaan secara rutin.

“Kemudian kalau ada korosi pada beton bertulang, maka tentu akan dengan cepat kemampuan elemen struktur, balok, atau kolom bisa mengalami kerusakan. Satu saja elemen balok rusak bisa menyebabkan jembatan tidak bisa beroperasi. Biaya pemeliharaannya pun cukup besar,” tegas Mudji.

Namun Mudji yakin bahwa pihak pengelola, dalam hal ini Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah memiliki upaya tersendiri dalam pemeliharaan Jembatan Suramadu agar bisa bertahan sesuai target yang sudah ditentukan.

“Aturan mitigasi kerusakan jembatan bentang panjang sudah dimiliki PUPR. Maka apabila ditemukan kerusakan harus segera dilakukan penanganan teknis sehingga tidak menyebabkan kemampuan pelayanan beban berkurang,” pungkasnya.

Sementara itu dilansir dari situs resmi Kementerian PUPR, https://pu.go.id bahwa biaya pembuatan Jembatan Suramadu saat itu menelan lebih dari Rp 4,5 triliun.

Jembatan Suramadu memiliki panjang 5.438 meter dengan tinggi 146 m dengan lebar 30 m. Ada 3 bagian dari jembatan ini, yaitu jembatan penghubung, jalan layang, dan jembatan utama.

Tujuan pembuatan jembatan  memberikan akses demi percepatan tingkat pembangunan dan perekonomian di Madura beserta wilayah lainnya.

▪︎Jembatan Nasional Suramadu

Seperti diketahui Jembatan Nasional Suramadu atau yang memiliki nama resmi Jalan Tol Surabaya–Madura sebuah jembatan sekaligus jalan tol yang melintasi Selat Madura, menghubungkan Pulau Jawa (di Surabaya) dan Pulau Madura (di Bangkalan, tepatnya timur Kamal).

Dengan panjang 5.438 m, jembatan Suramadu merupakan jembatan terpanjang di Indonesia untuk saat ini. Jembatan Suramadu terdiri dari tiga bagian yaitu jalan layang (causeway), jembatan penghubung (approach bridge), dan jembatan utama (main bridge).

Ground Breaking pembangunan jembatan ini dilakukan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri pada 20 Agustus 2003 dan dibangun serta diresmikan pembukaannya  Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 10 Juni 2009.

Pembangunan jembatan ini ditujukan untuk mempercepat pembangunan di Pulau Madura, meliputi bidang infrastruktur dan ekonomi di Madura yang relatif tertinggal dibandingkan kawasan lain di Provinsi Jawa Timur.

Pembuatan jembatan ini dilakukan dari tiga sisi, baik sisi Bangkalan maupun sisi Surabaya. Sementara itu, secara bersamaan juga dilakukan pembangunan bentang tengah yang terdiri dari main bridge dan approach bridge. Jembatan ini diresmikan bersama diresmikannya Jalan Raya Bogor yang berstatus Jalan Nasional.

Jembatan ini memiliki keindahan yang dapat  dinikmati saat melintas di Jembatan Suramadu, pengendara  dibuat tercengang dan terkagum-kagum karena saat berada di tengah jembatan, pengendara bisa melihat adanya laut yang indah dan juga apabila  datang pada saat yang tepat seperti sunset/sunrise akan sangat lebih bagus lagi pemandangannya.

▪︎Konstruksi

Jembatan Suramadu pada dasarnya merupakan gabungan dari tiga jenis jembatan dengan panjang keseluruhan sepanjang 5.438 meter dengan lebar kurang lebih 30 meter. Jembatan ini menyediakan empat lajur dua arah selebar 3,5 meter dengan dua lajur darurat selebar 2,75 meter. Jembatan ini juga menyediakan lajur khusus bagi pengendara sepeda motor di setiap sisi luar jembatan.

▪︎Jalan Layang

Jalan layang atau Causeway dibangun untuk menghubungkan konstruksi jembatan dengan jalan darat melalui perairan dangkal di kedua sisi. Jalan layang ini terdiri dari 36 bentang sepanjang 1.458 meter pada sisi Surabaya dan 45 bentang sepanjang 1.818 meter pada sisi Madura.

Jalan layang ini menggunakan konstruksi penyangga PCI dengan panjang 40 meter tiap bentang yang disangga fondasi pipa baja berdiameter 60 cm.

▪︎Jembatan Penghubung

Jembatan penghubung (approach bridge) menghubungkan jembatan utama dengan jalan layang. Jembatan terdiri dari dua bagian dengan panjang masing-masing 672 meter.

Jembatan ini menggunakan konstruksi penyangga beton kotak sepanjang 80 meter tiap bentang dengan 7 bentang tiap sisi yang ditopang fondasi penopang berdiameter 180 cm.

▪︎Jembatan Utama

Jembatan utama atau main bridge terdiri dari tiga bagian yaitu dua bentang samping sepanjang 192 meter dan satu bentang utama sepanjang 434 meter. Jembatan utama menggunakan konstruksi cable stayed yang ditopang oleh menara kembar setinggi 140 meter. Lantai jembatan menggunakan konstruksi komposit setebal 2,4 meter.

Untuk mengakomodasi pelayaran kapal laut yang melintasi Selat Madura, jembatan ini memberikan ruang bebas setinggi 35 meter dari permukaan laut. Pada bagian inilah yang menyebabkan pembangunannya menjadi sulit dan terhambat, dan juga menyebabkan biaya pembangunannya membengkak.

▪︎Tim Pakar Jembatan Suramadu

Jembatan Suramadu menjadi salah satu bukti nyata kemampuan Indonesia dalam bidang konstruksi infrastruktur dengan melibatkan beberapa ahli anak bangsa dari berbagai institusi, berikut adalah pakar yang berkontribusi dalam pembangunan Jembatan Suramadu

▪︎Dampak Ekonomi dan Kependudukan

Dengan adanya pembangunan jembatan ini, pemerintah berharap dapat meningkatkan pemerataan pendapatan dan pembangunan di wilayah Surabaya ke wilayah Madura, begitu pula dengan kependudukan, mengingat wilayah Surabaya yang semakin padat dengan penduduk yang melakukan urbanisasi yang sebagian besar berasal dari wilayah Madura, pemerintah berharap dengan adanya pemerataan ekonomi ini dapat menekan laju urbanisasi tersebut.▪︎[FEND/ZA]

Related Articles

Back to top button