Berita Utama

Tradisi Ritual “Tolak Balak” Menyambut Rabu Wekasan

▪︎JATIM – POSMONEWS.com,-
Tradisi ritual Rebu Wekasan (Rabu terakhir, red) malam ini digelar di berbagai daerah di Jawa Timur. Hari itu dipercaya bakal turunnya musibah dan bala. Sebagian juga menganggap Rabu terakhir dalam bulan Safar sebagai hari sial. Benarkah demikian?

Pada umumnya sebagian umat Islam menggelar ritual pada Rabu terakhir Safar, kemudian dikenal dengan istilah “Rebu Wekasan”. Merujuk pada kalender Kemenag dan Nahdlatul Ulama (NU), Rebu Wekasan 2024 jatuh pada Rabu 4 September 2024 atau 30 Safar 1446 H.

Lantas mengapa ada ritual “Rebu Wekasan”? Karena pada hari itu dipercaya bakal turunnya musibah dan bala. Sebagian juga menganggap Rabu terakhir Safar sebagai hari sial.

Oleh karenanya, melakukan serangkaian amalan khusus di hari tersebut untuk menangkal musibah dan bala. Hal ini pun disampaikan ulama kharismatik KH Maimoen Zubair (Mbah Moen).

Mbah Moen mengkapkan, sebagian ulama ahli kasyaf mengatakan, pada hari Rebo Wekasan itu tempat tumpuan bala dan cobaan. Makanya kalau Rebo Wekasan disuruh salat empat rakaat.

Mbah Moen menambahkan, masing-masing rakaat sholat membaca surah Al-Kautsar 17 kali, Al-Ikhlas lima kali, Al-Falaq satu kali, dan An-Nas satu kali. Kemudian ia menjelaskan alasannya.

“Kalau kamu mau membaca (Al-Kautsar) 17 kali, maka kamu akan hidup enak, dan orang yang memusuhimu akan tertumpas,” jelas Mbah Moen.

▪︎Tradisi Jawa

Rabu Wekasan lekat dengan tradisi Jawa tapi ada sederet amalan yang bisa dilakukan. Lantas, apa Rabu Wekasan dalam Islam itu ada?

Tradisi ini masih dilestarikan umat Islam khususnya di Sumatera dan Jawa. Terdapat rangkaian kebiasaan dan amalan dalam rangka menolak bala sebab diyakini bulan Safar adalah bulan penuh kesialan.

Dalam Islam, tidak ada label baik-buruk atau hoki-sial terhadap hari dan bulan. Islam mengajarkan bahwa hari-hari, bulan-bulan berjalan seturut kehendak Allah SWT.

Hanya saja, saat menilik era jahiliyah atau era sebelum kedatangan Nabi, masyarakat kala itu termasuk bangsa Arab menganggap Safar adalah bulan sial.

Melansir dari NU Online, meski masyarakat sudah hidup di dunia modern dan menerapkan ajaran Islam dengan lebih relevan, anggapan seperti itu masih diyakini beberapa kalangan.
Rasulullah saja pernah berupaya meluruskan dengan mengatakan,

Tidak ada wabah (yang menyebar dengan sendirinya tanpa kehendak Allah), tidak pula ramalan sial, tidak pula burung hantu dan juga tidak ada kesialan pada bulan Safar. Menghindarlah dari penyakit kusta sebagaimana engkau menghindari singa.” (HR Imam al-Bukhari dan Muslim).

Amalan di Rabu Wekasan antara lain, berdoa sebab doa apa pun akan dikabulkan, memohon ampun pada Allah SWT, dan membaca Al-Qur’an.

Berbagai ritual dilakukan masyarakat Jawa dalam menyambut Rabu Wekasan. Di antaranya:

1. Salat

Sebagian ulama menghukumi salat Rabu Wekasan sebagai haram. Ini karena tidak ada dalil sahih yang mendasari anjuran ibadah tersebut.

Namun, menurut Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Quds al-Maki dalam Kanz al-Najah wa al-Surur, salat Rabu Wekasan tetap diperbolehkan, asalkan diniatkan sebagai salat sunah mutlak.

2. Puasa

Sebenarnya, ibadah dengan niat Rabu Wekasan tidak diperbolehkan dalam syariat Islam. Kendati demikian, masyarakat kerap berpuasa dengan tujuan mengharap perlindungan.

Puasa Rabu Wekasan juga dikenal sebagai puasa tolak bala. Setelah menjalankan ibadah puasa atau salat tolak bala, dianjurkan memanjatkan doa sapu jagat untuk menolak bala.

Pelaksanaan ibadah tanpa dasar syariat Islam dianggap tidak sah. Namun, masyarakat merasa perlu menjaga warisan budaya ini.

3. Mandi

Mandi tolak bala merupakan tradisi budaya yang sudah ada sejak dulu. Disebutkan laman Pemkab Kotawaringin Timur, tradisi mandi tolak bala dilihat sebagai simbol membersihkan diri.

Selain itu, tradisi mandi satu ini juga menjadi harapan agar diri bersih dan terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

4. Selamatan

Ritual Rabu Wekasan terakhir adalah selamatan. Ritual satu ini digelar berbeda-beda di setiap daerah. Namun, tujuan utamanya sama, yaitu berdoa meminta dijauhkan dari malapetaka.

Biasanya, acara selamatan diisi dengan perjamuan bersama berupa makanan tradisional. Akan tetapi, ada pula yang melemparkan hasil panen ke laut atau membagikan hasil pertanian melimpah kepada masyarakat sekitar.

Menyambut hari Rabu terakhir di bulan Safar, masyarakat Indonesia kerap melakukan ritual Rabu Wekasan, antara lain mengerjakan salat, berpuasa, mandi tolak bala, hingga menggelar selamatan.▪︎[AHM/SYIL]

Related Articles

Back to top button