Berita

Karya Bhakti Lestarikan Cagar Budaya Tugu Mayangkara

Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan jasa para Pahlawannya. Hal yang ditegaskan oleh Sang Proklamator dan Presiden pertama RI, Soekarno, Jasmerah, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.

Spirit ini yang membuat Kodim 0812/ Lamongan yang diwakili Koramil 0812/ 09 Mantup sebagai pemangku wilayah, menggelar karya bhakti bersama anggota dan warga sekitar di cagar budaya (sejarah) Tugu Mayangkara yang menjadi simbol perjuangan para pahlawan bangsa.

Dari tugu bersejarah yang berada di lapangan samping Koramil 0812/09 dan kawasan bukit dengan situs Makam Mbah Sedomargi juga Sendang Bulus inilah setiap tahun selalu digelar gerak jalan Mayangkara (biasanya bulan September atau Oktober, red), untuk napak tilas perjuangan pasukan Mayangkara pimpinan Mayor R. Djarot Soebiyantoro.

Dari data sejarah Mayangkara, yakni pada masa penjajahan Kolonial Belanda, daerah Mantup diperebutkan oleh Belanda. Untuk mempertahankan daerah ini maka dibentuklah sebuah gerakan atau pasukan berkuda yang dipimpin oleh Mayor Jarot. Pasukan tersebut menunggang kuda putih yang disebut dengan ”Pasukan Kuda Putih Mayangkara”

Pada saat itu, Desa Mantup belum bernama Mantup seperti sekarang ini. Ceritanya, kata Mantup berasal dari kalimat ”Amantubbillahi” artinya percaya kepada Allah.

Itulah semboyan yang selalu diucapkan oleh pasukan Kuda Mayangkara, mereka semua percaya akan pertolongan Allah, mereka semua percaya akan adanya Allah, mereka yakin bahwa Allah itu maha kuasa, berkat kegigihan dan semangat mereka, mereka berhasil mengusir pasukan Belanda dari wilayah tersebut. Dari keyakinan religi ini maka daerah yang bisa dipertahankan oleh para pejuang TNI ini disebut dengan “Desa Mantup”.

Di cerita sejarah lain, syahdan Sunan Giri mengutus santrinya bernama Mbah Kyai Sedomargi. Untuk menyebarkan agama Islam di sekitar lokasi yang sekarang bernama Mantup. Beliau memperjuangkan agama Islam dengan kegigihan dan kesabaran.

Beliau yakin akan pertolongan Allah, akan kekuasaan Allah, dan akan adanya Allah, itulah sebuah keyakinan yang selau dipegang dan tentunya tidak lupa untuk mengajarkan hal ini kepada masyarakat.

Beliau menuturkan, Amantubbillahi. Setelah perjuangan yang cukup lama, Mbah Kyai Sedomargi wafat dan dimakamkan di sebuah bukit belakang gedung Mayangkara, dan desa itu disebut dengan Desa Mantup.

Jika kita hubungkan kedua cerita tersebut, mungkin berkat ajaran Mbah Kyai Sedomargi itulah pasukan Kuda Putih Mayangkara mengerti akan kalimat Amantubbillahi, sehingga dapat memompa semangat pasukan tersebut.

Desa Mantup terletak di Kecamatan Mantup, Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur, yang diapit oleh, di sebelah utara berbatasan dengan Desa Tugu. Di sebelah selatan berbatasan dengan Desa Kedungsoko..Di sebelah barat berbatasan dengan Desa Gempol Manis, Kec. Sambeng. Di sebelah timur berbatasan dengan Desa Tugu dan Desa Sukosari.

Danramil 0812-09 Mantup Kapten Arm Yudhi Kurniadi mengatakan “Guna menjaga Cagar budaya menjadi salah satu media untuk mengenal sejarah. Di setiap cagar budaya, terdapat kisah yang menjadi daya tarik bagi banyak orang. Maka Koramil 0812/-09/Mantup mengajak warga desa Mantup untuk mengadakan karya bakti pembersihan Tugu Pahlawan Mayangkara”.

“Diketahui Tugu Mayangkara di pakai Lambang atau Simbol Satuan yang ada di wilayah Kabupaten Mojokerto yakni Yonif Para Raider 503/Mayangkara, yang berkedudukan atau Bermarkas di Mojosari Mojokerto Jawa Timur, semula bernama Batalyon Infanteri Lintas Udara 503/Mayangkara,” jelas Danramil.
**DANAR SP**

Related Articles

Back to top button