Bupati Lamongan : Muharram, Berbenah & Hijrah dari Pandemi

Peringatan pergantian tahun baru Islam, 1 Muharram 1442 H di Masjid Agung Lamongan cukup hikmad. Meski berada dalam masa pandemi Covid 19, tradisi Muharraman ini tetap terhelat dengan lancar dan penuh hikmah.
Antusias warga juga tampak begitu besar untuk menghadiri peringatan pergantian tahun baru 1 muharram 1442 H ini. Sejak pukul 16.00 WIB warga sudah berdatangan di depan Masjid Agung Lamongan. Alunan musik Arabian dan tarian Sufi pun sudah beraksi di sesi pengundang tamu.
Peserta pun meluber ke alun alun sisi barat sehingga terlihat ratusan santri dengan baju taqwa putih itu memenuhi tempat acara.
Seremonial diawali lantunan Alquran menggema di masjid dan surau di Kota Lamongan guna menyambut datangnya tahun baru Hijriah ke 1442, yang bertepatan dengan 1 Syuro 1954 penanggalan Jawa dengan segala ritual dan lelakunya.
Momentum pergantian tahun baru Islam ini tetap menggunakan protokol kesehatan. Peringatan pergantian tahun baru di laksanakan di depan Masjid Agung Lamongan, ditempat terbuka dengan tetap memperhatikan aturan jaga jarak. Hal ini terlihat dan dibuktikan dengan penataan tempat duduk yang diatur jaraknya sesuai protokol kesehatan.
Acara dimulai dengan khatmil Qur’an serentak melalui daring, dilanjut pemberian santunan pada yatim piatu, dilanjut pembacaan doa ahir tahun dan awal tahun baru oleh KH. Abdul Aziz Khoiri, Ketua MUI Kab. Lamongan.
Sebagai acara inti, refleksi tahun baru islam, penekanan tombol sirine dan pelabuhan beduk sebagai tanda detik-detik pergantian tahun tepat jelang magrib.
Dalam momentum ini Bupati Lamongan H. Fadeli. SH, MM didampingi segenap Forkopimda Lamongan , para ulama Sepuh mengajak masyarakat untuk evaluasi diri, dengan semangat dan niat baik .
“Pada pertengahan tahun 1441 H, Allah memberi teguran untuk kita dengan dihadirkannya virus yang mampu menjungkirbalikkan kesehatan dan ketakaburan kita. Semoga semangat hijrah mampu membawa harapan agar segala musibah yang terjadi segera diangkat,” ujar bupati diakhir jabatannya.
”Semoga semangat hijrah mengiringi kita memasuki tahun 1442H dengan hati yang tulus dan bersih, memperbaiki amalan ibadah, senantiasa menyebarkan kebaikan dimana saja. Selamat tahun baru 1442 H,” ujarnya diikuti gebyar dan dentuman kertas warna warni.
Suasana pun tambah meriah, saat yang hadir bisa menikmati jajanan gratis yang sudah disediakan panitia. Sedangkan di sisi utara panggung berjajar stand UKM yang menggelar kuliner khas Lamongan. Mereka ini baru berbenah dan serasa bangkit di masa pandemi, dengan gebrakan POL (Pasar Online Lamongan).
Bulan Muharram memang membawa berkah. Kebiasaan orang Jawa dalam memperingati tahun baru Islam maupun Jawa diikuti ritual keagamaan maupun budaya salah satunya jamasan keris, namun di Lamongan kota khususnya tidak dibulan Suro tapi di bulan Dzulhijjah tanggal 10 an. Sedangkan Lamongan sisi selatan ritualnya hampir sama malam 1 Suro atau panjang bulan.
Di Tuban, Nganjuk dan daerah selatan bulan Suro merupakan bulan tiniwisuda sebagai waranggono atau pedinden baru, setelah melakukan ritual jamasan dengan mandi kembang dengan air diambil langsung dari air terjun.
Di malam satu Suro malam kemaren seperti yang dilakukan di Kota Yogyakarta maupun Surakarta, masyarakat thowaf mengelilingi benteng Kerajaan, setiap satu putaran menjalani laku jalan kaki dan laku bathin, tidak omong atau berbicara satu sama lain sebagai simbol keprihatinan.
Setelah lingsir tengah malam, mereka berbondong ke alon-alon kidul. Mereka menguji nuraninya, dengan tertutup mereka jalan di antara 2 pohon beringin besar. Hampir peserta yang ikut jalan selalu tidak berhasil, menceng kekiri atau kekanan.
Dipercaya yang berhasil berjalan di antara pohon beringin, kedepannya kehidupan kedepan jauh dari halangan maupun rintangan. Lempeng saja ke depan dengan kesuksesan yang diraihnya.
(DANAR/ARIFIN)

