Tafakur, Konsepsi Islam Jalan Menuju Tuhan (10)

176 dibaca

Zikir merupakan rangkaian ibadah yang mengiringi shalat. Maknanya eling (ingat) pada Tuhan. Kualitas takwa seseorang diukur dari zikirnya. Zikir yang bagaimana? Zikir yang sesungguhnya zikir, bukan sekedar zikir yang dapat meneteskan air mata dan jumlah hitungan. Tetapi zikir secara ikhlas dan keseluruhan (lahir batin). Lisan berzikir, hati berzikir, pori-pori berzikir, kulit bahkan bulu-bulu pun ikut berzikir. Bagi mereka yang sudah sampai pada tataran zikir, tidak dalam kondisi terjaga, ketika tidurpun tetap berzikir. Zikir yang demikian itulah zikirnya kalbu.
Bagaimana caranya agar hati senantiasa berzikir kepada Allah? Seorang Syech sebuah tarekat mengajarkan hendaknya dilatih siang malam. Berzikir dengan menyebut asma Allah sebanyak-banyaknya, dilakukan terus menerus, tidak berbatas waktu dan tempat. Tidak hanya sekadar dibibir saja, tetapi harus menghadirkan hati dan pikiran berkonsentrasi. Tanpa kehadiran hati, maka tidak akan mencapai ruhani. Praktik ini harus dilakukan secara terus menerus sampai detak jantung dan kalbu bergemuruh menyebut asma Allah. Begitu lisan diam, bahkan bercakap-cakap, secara jelas hati terdengar  berzikir. Jika sudah bisa demikian, tidurpun tetap berzikir.
Tuan Guru Muda, sebutan seorang Kiai atau Syech aliran tarekat Naqsabandiyah di Kalimantan, mengajarkan pada santrinya yang usianya muda hingga kakek-kakek untuk berdzikir, pada siang dan malam hari terus menerus. Tujuannya untuk melatih berzikir. Jika hati sudah bisa berzikir, walaupun pikiran melayang kemana-mana, mata tertidur, begitu bangun lalu memeriksa hatinya, tetap terdengar berzikir. Jamaah zikir asuhan Tuan Guru itu berlomba meningkatkan kualitas diri mencapai ‘Arif’.
Bagaimana tentang ‘Arif” itu? Dalam sebuah risalah, Abu Yazid al-Bustami ditanya tentang hal itu beliau menjawab: “Tak terlihat dalam tidurnya selain Allah, dan tidak terlihat dalam terjaganya selain Allah, dan tak ada yang ia sukai kecuali Allah”.
Gambaran pezikir dalam kehidupan menurut Nabi Muhammad SAW: “Orang yang mengingat Allah di antara orang-orang yang lalai adalah seperti orang hidup diantara orang-orang mati”. Sebuah hadits lainnya menyebutkan, “Orang yang mengingat Allah diantara orang yang lalai adalah seperti pohon hijau di tengah rumput-rumput kering”. Sudah jelas bahwa kehidupannya dimata Allah segar dan subur. 

Tata Krama 

Berzikir itu juga ada tata kramanya. Diantaranya, dalam kondisi berwudhu dan menghadap kiblat. Dilakukan dengan suara lembut, merendahkan diri, dan merasa yakin dikabulkan doanya dan zikirnya oleh Allah Ta’ala.
Dalam aliran tarekat tertentu, ada gerakan-gerakan khusus dalam berzikir. Ada yang memutar kepala, manggut-manggut, menoleh kekanan dan endingnya menoleh kearah dada kiri, persisnya hati.
Berapa lama waktu yang paling baik untuk berzikir? Syed Daoud Iqbali, pimpinan tarekat Naqsabandiyah Afganistan pernah menyatakan, bahwa zikir yang berlangsung kurang dari empat atau lima jam hanyalah membuang waktu. Artinya kurang memperoleh hasil.
Bagi setiap orang yang serius tertarik dengan manfaat-manfaat zikir, bimbingan seorang Syeikh (Mursyid) merupakan keharusan. Seorang sufi besar mengatakan, “Orang yang tidak memiliki guru (syeikh) dan mengikuti dirinya sendiri berarti telah mengambil setan sebagai pembimbingnya”.
Pada umumnya, upaya zikir dilaksanakan pada Kamis malam (para sufi menganggapnya sebagai awal hari Jumat, hari ibadah bagi umat Islam). Biasanya para peserta zikir berdatangan sebelum mengerjakan shalat Isya, lalu ditempat upacara mengerjakan shalat Isya berjamaah. Kemudian menunggu isyarat atau tanda dari syeikh untuk mulai zikir.

Zikir Terbaik 


Bacaan zikir apa yang paling afdal? Diberitakan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Afdlalu zikri Laa ilaha illallahu”. Sebaik-baik yang diucapkan olehku dan para Nabi sebelum aku ialah: “Laa ilaha ilallah wahdahu la syariika lah (tiada Tuhan selain Allah sendiri, tiada sekutu bagi Diri-Nya).
Pembacaannya mengikuti petunjuk syaikh, mungkin cepat atau lambat, keras atau perlahan-lahan. Sasaran zikir untuk meningkatkan jenjang-jenjang terminal (perhentian) jiwa (maqom), sehingga seseorang sampai pada penyaksian akan Yang Maha Suci.       
Apabila hal itu terjadi, (yang tidak tercapai secara merata pada setiap orang) akan jatuh pada keadaan wajd (kebahagiaan). Zikir yang dibaca oleh kelompok zikir, tidak hanya satu. Biasanya diambil dari Alquran, puji-pujian, bertasbih, salawat nabi, asmaul husna, dan lainnya.
Mengenai zikir asmaul husna, sesungguhnya banyak sekali hikmahnya. Masing-masing asma Allah yang merupakan sifat Allah, memiliki hikmah luar biasa. Asma Allah Al-Badii’u (Yang Menciptakan Yang pertama kali) misalnya, terkandung rahasia mulia. Jika di zikir dengan tata kramanya, Insya Allah tidak henti-hentinya memperoleh ilmu Ketuhanan, serta tumbuh berbagai ilmu dari hati dan lisannya.   
Syaikh Ahmad bin Ali Al Buni dalam kitab Syamsul Muarief menceritakan pengalamannya. Ia telah merutinkan berzikir dengannya dalam beberapa waktu. Yang semula saya tidak mengerti sesuatu tentang ilmu, dalam waktu tidak lama Allah mengalirkan ilmu Alhikmah (kebijakan) pada lisan saya sehingga jadilah saya mampu berbicara yang saya tidak mengetahui dan memahaminya. Karena nilanya terlalu tinggi (baqi), papar Syaikh.
Asma Allah Nuur (cahaya), juga merupakan asma yang mengandung magnet/daya tarik. Jika dizikir sebanyak-banyaknya secara rutin, Allah akan menerangi hatinya dengan Nuur iman. Jika ia orang jujur, maka Allah akan menampakkan cahaya hatinya pada mukanya. Dan keluarlah cahaya dari mulutnya di saat ia berzikir, sehingga menerangi rumah yang gelap. Sementara itu, kedua matanya tertutup hingga ia tenggelam dalam satu situasi yang bisa melihat dengan jelas terhadap berbagai cahaya yang mengagungkan memenuhi hatinya. Dalam kata lain, dapat melihat kegaiban. Begitu pula asma-asma lainnya.
Salah seorang syaikh telah berkata: “Kebahagiaan yang terjadi pada orang-orang soleh dalam zikirnya merupakan semacam gejolak, yang menjadi penyebab gelombang mengeluarkan buih dan pecah di pantai”.
Nabi Musa AS telah diberi penjelasan oleh Allah bahwa zikir merupakan ibadah khusus yang paling disenangi. Karena kemampuannya untuk menanamkan ketulusan yang sangat dalam pada hati orang yang mempercayainya.     

Malaikat Kagum
Rasulullah SAW telah memberikan penjelasan mengenai yang terjadi dalam pelaksanaan zikir secara berjamaah. Beliau bersabda, sekelompok malaikat diberikan tugas khusus oleh Allah untuk melakukan patroli ke seluruh dunia, mencari orang-orang yang menghabiskan waktunya untuk mengingat Allah yang Maha Kuasa, dan menyebut-nyebut nama-Nya. Tatkala mereka menemukan sekelompok orang yang sedang berzikir, para malaikat sangat kagum dan senang, mereka memanggil para malaikat yang lain untuk bergabung dengan mereka, sambil menggabungkan sayapnya dan membentuk barisan yang mengarah menuju ke surga.
Sewaktu kumpulan zikir ini berakhir, para malaikat kembali ke surga dan Allah bertanya kepada mereka darimana mereka (walaupun sebenarnya Allah tahu apa yang telah terjadi, namun Dia sangat senang mendengarnya). Para malaikat bercerita kepada Allah bahwa mereka baru saja kembali dari sekumpulan orang yang telah menghabiskan waktunya dengan mengingat Allah dan mereka mengagungkan serta memuji-muji-Nya. Allah bertanya kepada para malaikat, “Apakah mereka melihat-Ku?”
Para malaikat menjawab, “Tidak Ya Allah, mereka tidak melihat Engkau.”
Allah kemudian bertanya kepada para malaikat, “Apa yang akan dipikirkan oleh mereka sekiranya mereka melihat-Ku”.
Para malaikat menjawab, “Jika demikian maka mereka akan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk beribadah kepada Engkau Ya Allah.”   
Apa yang mereka inginkan dari-Ku?” Allah bertanya
“Mereka sangat merindukan surga-Mu ya Allah.” Jawab para malaikat.
“Apakah mereka melihat surga-Ku?” Allah bertanya kembali.
“Tidak ya Allah, mereka tidak melihatnya.” Jawab para malaikat.
“Apa yang terjadi sekiranya mereka melihatnya?” Allah bertanya lagi.
Mereka semakin merindukannya, jawab para malaikat.
“Dari apa mereka meminta perlindungan.” Allah bertanya lagi.
“Mereka sedang meminta perlindungan dari api neraka.” Jawab para malaikat.
“Apakah mereka telah melihat neraka-Ku?” Allah kembali bertanya. “Tidak ya Allah. Mereka tidak melihatnya”, jawab para malaikat.
“Apa yang terjadi seandainya mereka melihat neraka-Ku? Allah bertanya lagi.
“Mereka akan semakin memohon perlindungan Engkau ya Allah dari siksa api neraka,” jawab para malaikat.
Kemudian Allah mengatakan kepada para malaikat yang hadir bahwa Dia telah memaafkan semua orang yang menghabiskan waktunya untuk mengingat-Nya. Salah satu malaikat berkata kepada Allah, “Tapi, ya Allah, ada diantara mereka orang-orang yang hanya kadang-kadang saja ikut zikir dan tidak termasuk dalam kelompok itu (yaitu orang-orang yang tidak tulus). Allah yang Maha Kuasa menjawab, “Bahkan, orang seperti itu telah Aku maafkan, yang dimuliakan adalah kumpulan zikirnya sehingga sekalipun orang hanya kadang-kadang saja ikut, ia tidak terhalangi dari pahala-Ku. **** Bung Yon Ngariono.