Meneladani Amalan Ibadah Kiai Siroj

265 dibaca

MBAH KIAI SIROJ, Payaman, Magelang dijuluki masyarakat dengan panggilan Romo Agung merupakan orang yang dikenal kewaliannya. Namun, di balik keramat yang dimiliki, ada ibadah yang sangat kuat, di luar kebiasaan orang pada umumnya.
Satu ketika, Kiai Siroj berkunjung ke rumah salah satu temannya, KH Dardiri dari Tingkir, Kota Shalatiga. Waktu itu, desa ini masih mengikuti wilayah Kabupaten Semarang.
Di rumah Kiai Dardiri ini, selain Kiai Siroj, Payaman, ada Kiai Munajat yang turut hadir di sana. Ketiga kiai yang berkumpul dalam satu majelis tersebut mempunyai hubungan sangat akrab.
Sesaat sebelum melaksanakan salat Isya’, Kiai Siroj tahu bahwa tuan rumah sedang memasak, mempersiapkan jamuan. Diperkirakan, nanti jamuan akan disajikan setelah salat Isya’ dilaksanakan sehingga pas.
Usai salat isya’, Kiai Siroj ternyata tidak lekas beranjak dari tempat sujudnya. Ia tidak hanya salat beberapa rakaat ba’diyah atau salat witir. Beliau menyambung dengan salat-salat sunah. Dua kiai lain, Kiai Dardiri dan Kiai Munajat hanya menunggu sambil berbincang bersama di luar.
Pukul 02.00 dini hari, Kiai Siroj baru selesai melaksanakan salat-salatnya. Beliau bertanya kepada tuan rumah. “Lha, masakannya apa sudah matang?”
Sangat tampak, Kiai Siroj seperti orang yang baru melaksanakan salat lima atau sepuluh menit. Tidak heran jika beliau bertanya masakannya sudah matang apa belum. Padahal, dua kawannya yang lain sudah menunggu berjam-berjam. Oleh Kiai Siroj dikira baru beberapa menit.
Karena Kiai Siroj sudah mencapai “maqam” kelezatan dalam beribadah, mencapai ekstase tinggi, salat yang begitu lama dikira baru sebentar saja.
Tidak cukup di situ. Untuk membuktikan kewalian dan kedekatannya kepada Allah dan jauhnya hati dengan dunia, Kiai Dardiri mencoba berbisik kepada Kiai Munajat.
“Mbah, Anda ingin membuktikan nggak bagaimana cara membedakan wali atau tidak?” tanya Kiai Dardiri.
Sejurus, Kiai Munajat menjawab, “Iya.”
Habis itu, Kiai Dardiri tanya langsung kepada Kiai Siroj tadi.
“Mbah, wedangnya sudah manis apa belum?”
Kiai Siroj tidak lekas menjawab. Padahal ia baru beberapa detik yang lalu meminumnya. Kiai Siroj mengambil gelas, diminum, seketika itu, gelas masih dalam genggaman, Kiai Siroj baru menjawab.“Oh ya, sudah manis.”
Artinya, Kiai Siroj, dalam urusan dunia seperti manisnya gula, selang beberapa detik saja sudah terlupakan. Ia tidak ingat lagi. Karena hatinya penuh dengan ingat Allah. Semua benda dunia tidak mendapat tempat di hatinya. Sebaliknya, salat yang berjam-jam, oleh Kiai Siroj, dikira baru beberapa menit.
Jadi, di luar keramat yang dikenal masyarakat luas kala itu, ada dzikir dan ibadah yang  perlu kita teladani. Kita tidak boleh hanya takjub dengan keramatnya, namun abai terhadap amalan di balik keramat yang tampak pada seorang wali.
Cerita tersebut juga memberikan visualisasi, bagaimana Baginda Nabi Muhammad shallahu alaihi wa sallam dulu sampai bisa salat 100 rakaat dalam semalam. Ya, bagaimanapun kalau landasannya adalah cinta yang mendominasi, yang berat terasa ringan.
Kerja di sawah, menjadi tukang becak, tukang bangunan atau apa saja, rata-rata susah payah secara fisik. Namun  karena dilandasi cinta, tidak begitu terasa. Capeknya adalah nikmat. Seperti pengantin baru yang dicubit pasangannya, sesakit apa pun, beliau tidak memandang itu sakit, tapi nikmat karena dilandasi cinta yang kuat.
Demikian orang yang cinta kepada Allah, capeknya salat tidak terasa. Adapun yang salat hanya dua menit setengah sudah merasa capek atau justru malas melakukan, cintanya kepada Allah perlu dipertanyakan.(Ahmad Mundzir)
Cerita penulis peroleh dari penuturan seorang kiai sepuh di Kota Salatiga yang enggan dipopulerkan namanya.***