Wejangan Rahasia untuk Para Santri

115 dibaca

Gatoloco mulai membabar ilmu, bab pemberian sekarat menurutnya ada tiga perkara. Pertama, apa-apa di hadapanmu. Kedua, bulu mata, dan ketiga, menghadap. Sedangkan pemberian iman itu juga ada tiga perkara. Pertama rasa syukur. Kedua tawakal. Ketiga rasa sabar.

 

SELANJUTNYA tentang pemberian tauhid. Menurut Gatoloco hal itu ada dua perkara. “Pertama karena tetap (konsisten). Kedua, rasa takut. Sedangkan jika ditanya tentang pemberian makrifat yang sejati, maka sebaiknya kamu jawab saja dengan sederhana. Hanya satu perkara, ada dalam keberadaanmu itu sendiri. Yakni depan, yang merupakan rasa dari rasa kuasa yang baik.”

“Selanjutnya, soal martabat yang keramat, sepengetahuanku ada tiga. Senang bergaul dengan para mukmin, menyukai sifat para wali, senang bergaul dengan para mukmin, menyukai sifat para wali,senang terdapat dzat para nabi, karena senang terhadap Dzat Allah. Memang, terkadang ada rasa asihnya. Yang menyukai sifat itu, juga akan mendapatkan tempat, karena suka terhadap keutamaan Allah. Karena ada gerak-geriknya, jika terpusat penglihatanmu, akan terbuka yang sejati. Sifat manusia seperti itu, juga ada tempatnya. Sungguh menjadi manusia yang utama.

“Dan Wis Ananrana awal kemunculan imanmu itu? Jawabnya, itu bersamaandengan kepasrahan hati. Ini kunci yang sempurna, untuk menuju pada kesempurnaan hidup manusia ini.

“Soal martabatnya nyawa, kalau kamu ditanya, banyaknya hanya satu. Yakni roh Idlafi, dengan satu jalan, yang dimaksudkan ya hidup ini. Tidak ada hidup tiga. Yang pasti hanya satu. Jika kamu ditanya di mana Allah sekarang, selanjutlah jawablah, siapa yang mengucap itu. Jangan kamu kebingungan. Sebab kamu memang bukan Hyang Widhi, yang diucap dan yang mengucap kami sendiri.”

‘Tapi harus diingat, dalam membicarakan persoalan itu, pengetahuanmu harus menerima dengan benar. Karena banyak yang menerima soal ini seperti air, tanah atau seperti hujan. Juga ada yang mnganggap  sepeperti besi, seperti samudra atau seperti tanah kering. Jadi harus diserapn dulu maksudnya. Tidak hanya berhenti pada rohaninya. Karena yang dimaksudseperti hujan, tidak akan berhenti, seperti yang aku saksikan.

“Ada lagi yang seperti besi, sekehendakmu memerintahnya. Dibuat sabit, parang, kapak, atau senjata apapun tidak akan berubah sifatnya. masih ada wujudku, yang diumpamakan samudra, petunjuk yang sangat baik. Demikian mestinya dalam mendapatkannya. yakni pada omongan satu ucapan saja. Dan pada jalan satu langkah saja. setelah itu, berdiam dirilah terus. jika sudah seperti samudra, tidak akan berubah, aku menyaksikannya.

“Kamu semua saksi yang menyaksikan, bahwa tidak ada dua penglihatan. Tidak ada tiga ucapan. jadi sempurna salatnya. Mengetahui tujuannya sembahyang, mengetahui tujuannya menyembah.

“Ternyata benar tidak meleset, mengetahui tujuan hati, mengetahui tujuan pikiranmu, mengetahui tujuan mendengar, mengetahui tujuan mengucap, mengetahui tujuan berdiri, duduk. Dan mengetahui tujuan tidur, mengetahui tujuan bangun, mengetahui tujuan makan, mengetahui tujuan minum air, mengetahui, tujuan berak, mengetahui tujuan kencing.

“Mengetahui tujuan senang dan marah, mengetahui tujuan prihatin, mengetahui tujuan keselatan dan ke timur, ke utara, ke barat, mengetahui tujuan ke bawah, mengetahui tujuan ke atas. Mengetahui tujuan ke tengah, mengetahui tujuan ke pinggir, mengetahui tujuan mati, mengetahui tujuan hidup, mengetahui semua yang ada, yang diangankan, dan yang terlihat. Asal tidak terhalang akan mengetahui semuanya. Adanya pertanda itu, bagi kamu semua aku pesankan, anak muridku, jangan sembrono (kurang ajar). Ketahuilah isi tulisan. kalau kamu sudah mengetahui, simpanlah yang sungguh-sungguh. Jangan bingung memagarinya. jangan sembarangan memaknai. Menggunakan dugaan. Pemikiran, dan jangan mentang-mentang kalian bisa menafsirkannya.

“Dan lagi, jangan sampai terlontar pada mereka yang ahli agama. Jika membantah, sungguh akan menjadi kafir. Sebab rasan-rasan ini tidak membicarakan agama. hanya berupa ilmu yang sejati. yang berkaitan dengan itu, tidak bisa dihitung lagi. ceritanya tentang apa-apa yang saya jelaskan, gambarlah di batinmu. Menjadi pegangan semua. Peganglah bagi mereka yang menggunakan akal budi. DANAR SP