Peninggalan Zaman Prabu Airlangga

482 dibaca

Selama ini situs bersejarah di Sidoarjo yang dikenal adalah Candi Pari. Namun, sebenarnya di daerah yang berjuluk kota Delta ini masih banyak dijumpai situs-situs bersejarah peninggalan kerajaan. Salah satunya adalah prasasti peninggalan Airlangga yang terletak di Dusun Klagen, Desa Tropodo, Kecamatan Krian.Berikut tulisan Cak Mus posmonews.com.

SEPINTAS terlihat tak ada yang istimewa dari situs ini batu setinggi 2,19 meter yang memiliki lebar 116 cm dan tebal 29-250 cm ini. Tidak ada papan penunjuk yang menunjukkan keberadaan batu yang merupakan prasasti peninggalan Raja Airlangga tahun 1037 Masehi itu. Tidak ada juga papan informasi di lokasi itu yang menjelaskan arti tulisan yang diukir di prasasti dan makna pembangunan prasasti oleh Airlangga. Keberadaan prasasti tersebut seakan hendak dihilangkan dan dilupakan. Prasasti itu pun tidak lebih dari seonggok batu yang diyakini memiliki kekuatan magis. Padahal, banyak sejarah yang tersirat di dalamnya yang bisa dipelajari karena masih relevan sampai sekarang.

Pada prasasti Kamalagyan bertuliskan Sira ratu cakrawarta umanun pamanghanikan rat hita pratidina panlingananikan sabhuwanari tan sharta kewala cri maharaja, yawat kawanunann yaca donanya, an kapwa kinalimban juag denira, sahana san byan sarwwa dharma kabeh. 

Artinya kira-kira: “Seorang bisa memutar roda dunia ini, apabila ia membuat dan menemukan hal-hal yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari. Apabila di dunia ini ada tanda tidak makmur, hanyalah Cri Maharaja [yang bertanggung jawab]. Tujuannya ialah untuk membuat jasa oleh Cri Maharaja agar selalu diperhatikan semua tempat-tempat makam suci.”

Menurut Osin, juru kunci, prasasti tersebut sudah ada sejak lama pada lahan miliknya. Di sebelah prasasti itu ada sebuah batu panjang. Konon batu tersebut bisa memanjang. Osin mengatakan awalnya batu tersebut berukuran 75 cm, tetapi 3 tahun kemudian batu tersebut menjadi 85 cm. “Sebenarnya ada dua, tetapi ada orang yang sengaja mengambilnya,” katanya.

Osin menambahkan di sekeliling prasasti banyak ditemukan benda peninggalan sejarah seperti sumur, tumpukan batu bata, dan koin setiap kali warga menggali tanah. “Adik saya dulu pernah melihat peti berisi emas. Namun setelah diambil jadi sakit,” katanya

Prasasti yang diyakini dibuat pada masa pembangunan di era Raja Airlangga setelah masa perjuangan mereintegrasikan penguasa yang melepaskan diri sepeninggal Raja Dharmawangsa. Di prasasti itu terukir bahwa pada saat itu ada pembangunan tamwak atau tanggul yang dinamakan tamwak waringin sapta secara gotong-royong oleh warga di Sungai Bangawan yang saat ini dikenal dengan nama Sungai Brantas. Tanggul dinamakan waringin sapta atau tujuh pohon beringin diduga karena pohon beringin yang memiliki akar kuat ikut dipakai sebagai tanggul. Pembangunan tanggul di sungai yang dulu memiliki tiga anak sungai (Kalimas, Sungai Porong, dan Bangawan Trung) itu diperlukan karena tanggul yang ada tidak dapat mencegah banjir berulang kali.

Dwi Cahyono, arkeolog dari Jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang mengatakan, banjir menenggelamkan rumah warga di pinggir sungai, sawah, dan tempat suci. Perekonomian yang pada masa itu sangat bergantung pada alur sungai pun menjadi lumpuh. Oleh karena itu, tanggul pun dibuat. Karena pada saat itu masih banyak “musuh politik” Raja Airlangga, warga Kamalagyan atau sekarang Dusun Klagen diminta menjaga tanggul tersebut. Sebagai imbalannya mereka tidak harus membayar pajak kepada kerajaan atau disebut Desa Perdikan.

Prasasti ini, menurut Dwi, mengingatkan betapa kuat dan derasnya Sungai Brantas. Padahal, saat itu sudah ada tiga anak sungai yang membuang aliran Sungai Brantas. Derasnya aliran itu masih terasa sampai sekarang. Sejumlah banjir yang diakibatkan meluapnya air sungai masih kerap terjadi. ***