Berita Utama

KemenPU Gandeng PII Dorong Percepatan Proyek Infrastruktur 

▪︎JAKARTA – POSMONEWS.com,-
Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, menerima kunjungan Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Ilham A Habibie di kantor Kementerian PU, Jakarta.

Kunjungan ini mendiskusikan peluang kerja sama percepatan pembangunan infrastruktur serta re-industrialiasi sebagai langkah strategis memperkuat daya saing ekonomi nasional di era Presiden Prabowo Subianto.

“Kementerian PU bersilaturahmi dengan PII, kita banyak berbincang mengenai apa yang bisa dibantu untuk mempercepat pembangunan infrastruktur di Indonesia. Sebab dalam beberapa kesempatan, Presiden Prabowo mengatakan bahwa perlu adanya swasta dalam pembangunan infrastruktur,” kata Menteri Dody dalam keterangan resminya.

Menteri Dody menambahkan, melalui pembangunan infrastruktur yang efisien dan investasi tepat sasaran, pemerintah optimistis dapat mempercepat pertumbuhan industri serta menekan incremental capital output ratio (ICOR) di bawah 6.

Penurunan ICOR menjadi salah satu prioritas utama Kementerian PU, utamanya untuk memastikan investasi berdampak maksimal pada ekonomi nasional.

“Untuk memastikan investasi menghasilkan pertumbuhan nyata, pembangunan infrastruktur harus memberikan manfaat jangka panjang. Oleh karena itu, kami berdiskusi mengenai bagaimana PII dapat mendukung Kementerian PU. Terkait teknisnya nanti akan kami diskusikan lebih lanjut,” tambah Dody.

Sementara itu Ilham A Habibie, PII turut menyampaikan, pihaknya siap bekerja sama guna mendukung program kerja Kementerian PU dalam mengembangkan infrastruktur dan konektivitas Tanah Air.

“PII menyatakan siap mendukung program kerja Kementerian PU, terutama di bidang infrastruktur. Saat ini, PII memiliki fokus utama yang kita sebut s, ebagai re-industrialisasi. Tujuannya meningkatkan semangat sektor perindustrian di Indonesia. Namun, industri tanpa adanya infrastruktur juga akan lemah. Oleh karena itu, kita bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama sebagai negara maju dan mendorong peningkatan ekonomi nasional,” jelas dia.

Saat ini Indonesia akan membutuhkan tingkat pertumbuhan investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) yang tinggi untuk bisa ikut menopang target pertumbuhan ekonomi 8% pada 2029. Namun, tingginya investasi yang masuk harus dibarengi rasio ICOR yang rendah, sebagai isyarat bahwa penggunaan modal tadi bisa efisien menghasilkan output besar.

Disampaikan Chief Economist PT Bank Negara Indonesia (BNI), Leo Putera Rinaldy, berapa pun tingkat investasi yang masuk, Indonesia harus menurunkan tingkat ICOR.

“Jadi, seberapa efisien kita menggunakan modal investasi untuk memacu pertumbuhan ekonomi. Kalau ICOR-nya rendah, berarti kita semakin efisien menggunakan modal (investasi) kita,” kata Leo.

ICOR merupakan parameter ekonomi makro yang menggambarkan rasio investasi kapital/modal terhadap hasil yang diperoleh (output), dengan menggunakan investasi tersebut.

ICOR bisa diartikan sebagai dampak penambahan kapital terhadap penambahan output (keluaran). ICOR mampu menjelaskan perbandingan antara penambahan kapital terhadap output.

Dikutip dari investortrust.id bahwa
Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) membuat trayektori investasi yang dibutuhkan selama 5 tahun masa pemerintahan Prabowo Subianto, untuk bisa mendukung pertumbuhan ekonomi 8% pada 2029.

Mengacu data Bappenas, untuk bisa mengerek pertumbuhan ekonomi seperti yang dicita-citakan, pada 2025 dibutuhkan investasi Rp 7.500 triliun. Angka investasi yang dibutuhkan terus meningkat, dan selama 5 tahun masa pemerintahan Prabowo akan dibutuhkan modal masuk sebesar Rp 47.587 triliun.

“Jika dirata-ratakan, kebutuhan investasi selama 5 tahun pemerintahan Prabowo Subianto hingga 2029 sebesar Rp 9.500 triliun per tahunnya, dengan nominal investment targeted to growth-nya itu di angka 11%-13%.” tutur Leo.

Sementara jika menggunakan data real dalam konteks deflator, maka real investment untuk menopang gross domestic produt (GDP) membutuhkan pertumbuhan investasi 7%-10% dibandingkan pertumbuhan investasi yang dicapai saat ini sebesar 4,2%.▪︎(FEND)

Related Articles

Back to top button