Mendapat Perintah dari Nabi Khidir

146 dibaca

Nama Syekh Magelung yang asli adalah Arifin Syam, putra dari kepala bagian pembesar istana Raja Hut Mesir. Di belakang namanya ada kata Syam diambil dari kota Syam, Syiria. Ia dari Mesir menuju Cirebon guna untuk mencari Sunan Gunung Jati. Berikut tulisan Husnu Mufid dari posmonews.com.

Syekh Magelung lahir di Syam, Syria. Sejak bayi telah ditinggalkan oleh ayah bundanya ke hadirat Allah SWT. Dibesarkan seorang muslim yang taat menjalankan ibadah. Ia pintar dalam segi bahasa bahkan saking pintarnya beliau sudah terkenal sejak usia 7 tahun dengan panggilan sufistik kecil di kalangan guru dan pendidik lainnya.

Sejak usia 11 tahun beliau telah menempatkan posisinya sebagai pengajar termuda di berbagai tempat ternama sepeti Madinah, Makkah, Istana Raja Mesir, Masjidil Aqso, Palestina, dan berbagai tempat ternama lainnya. Ia memiliki rambut yang panjang. Semakin hari semakin memanjang tidak terurus. Hal semacam ini bukan karena Syekh Magelung tidak mau mencukur rambutnya yang lambat laun jatuh ke tanah. Karena tidak bisa dipotong dengan senjata tajam apa pun.

Ketika terjadi perang antara kerajaan Mesir dengan kerajaan Romawi dan Tartar, Arifin Syam menjadi panglima perang bergelar Panglima Mohammad Syam Magelung Sakti. Selama memimpin perang tidak menggunakan pedang maupun tombak untuk membunuh musuhnya. Namun menggunakan rambutnya yang seperti kawat baja. Kesaktian rambutnya pula membuat pasukan musuh pontang panting.

Setelah perang usai ia bertemu dengan Nabiyullah Khidir AS yang mengharuskan mencari guru mursyid sebagai pembimbingnya menuju maqom kewalian kamil. Pertemuan tersebut menjadikan meninggalkan istana untuk mencari seorang mursyid. Dengan perbekalan makanan dan ratusan kitab yang dibawanya, Syekh Magelung mulai mengarungi belahan dunia dengan naik perahu. Beliau mulai mendatangi beberapa ulama terkenal. Namun tidak satu pun dari mereka yang menerimanya, mereka malah berbalik ingin menjadi muridnya.

Dengan kekecewaan mendalam, Syekh Magelung mulai meninggalkan mereka untuk terus mencari mursyid yang diinginkannya hingga pada suatu hari beliau bertemu dengan seorang pertapa sakti bernama Resi Purba Sanghiyang Dursasana Prabu Kala Sengkala di perbatasan sungai Selat Malaka.

Ia disarankan datang ke Pulau Jawa, sesungguhnya di sana telah hadir seorang pembawa kebajikan bagi seluruh waliyullah. Dengan perkataan sang resi barusan, Syekh Magelung sangat senang mendengarnya dan setelah pamit langsung meneruskan perjalanannya menuju Pulau Jawa.

Dengan semangat yang menggebu beliau langsung melanjutkan perjalanan menuju Cirebon. Sedangkan di tempat lain Syarif Hidayatulloh (Sunan Gunung Jati) yang sudah mengetahui kedatangan Syekh Magelung kemudian menjemput di Pelabuhan Cirebon dengan menyembunyikan jati dirinya.

Saat tiba di Pelabuhan Cirebon, Syekh Magelung langsung disambut Sunan Gunung Jati dan diajak salat dzuhur terlebih dahulu. Sambil terheran-heran Syekh Magelung mengikuti langkah manusia asing di hadapannya. Setelah usai salat diajak menuju Kota Cirebon, tetapi sebelum sampai di tempat tujuan Sunan Gunung Jati memotong rambutnya dan langsung menghilang dari hadapan Syekh Magelung. Tahu rambutnya telah terpotong beliau langsung berkeyakinan bahwa tiada lain manusia tadi adalah Sunan Gunung Jati. Lalu beliau pun memanggilnya tiada henti hingga ke seluruh pelosok desa.

Terpotonngya Rambut Baja

Kisah terpotongnya rambut Syekh Magelung kini masih dilestarikan dan menjadi nama desa yaitu di Desa Karang Getas sebelah selatan kantor Wali Kota Cirebon. Dengan rasa bersemangat, Arifin Syam terus mencari keberadaan Sunan Gunung Jati yang dianggapnya barusan memotong rambutnya. Beliau terus berlari sambil memanggil nama Sunan Gunung Jati terus-menerus. Pada suatu tempat tanpa disadari olehnya, beliau masuk dalam kerumunan orang banyak yang tak lain sedang dibuka perlombaan memperebutkan putri cantik dan sakti, Nyimas Gandasari Panguragan.

Merasa dirinya masuk gelanggang arena, wanita cantik yang tak lain adalah Nyimas Gandasari langsung menyerangnnya. Merasa dirinya diserang secara mendadak, Syekh Magelung langsung mengelak dan menjauhinya. Dengan serangan berapi-api Nyimas Gandasari langsung melipatgandakan tenaganya untuk mengalahkan.

Dengan perasaan dongkol, Syekh Magelung akhirnya memutuskan untuk melayaninya hingga di tengah perjalanan Nyimas Gandasari sangat kewalahan. Merasa kesaktiannya kalah di bawah pemuda asing, maka dengan sesekali loncatan Nyimas Gandasari berucap, “Ya Kanjeng Susuhan Sunan Gunung Jati Yajabarutihi ila sulthonil, kun fayakun Lailaha Illallah Muhamad Rosululloh” lalu melarikan diri dengan maksud agar pemuda tadi tidak sampai mengejarnya. Lain dengan jalan pikiran Moh. Syam waktu itu setelah beliau mendengar nama Sunan Gunung Jati disebutnya, beliau tambah berambisi untuk mencari tahu, maka disusullah Nyimas Gandasari, hingga sampai tangan kanannya terperangkap.

Merasa dirinya panik, Nyimas Gandasari langsung melepaskan tangan Syekh Magelung sambil tubuhnya menukik tajam ke bawah. Pada saat bersamaan Sunan Gunung Jati yang sedang tafakkur di sungai Kali Jaga, kedatangan Nyimas Gandasari yang wajahnya terlihat pucat pasi dan sambil menuding ke arah depan.

Kanjeng Sunan Gunung Jati berkata kepada Syekh Magelung. “Wahai kisanak, Anda mencari siapa di tempat sepi seperti ini?” Lalu Syekh Magelung pun menjawabnya, “Kisanak mohon maaf sesungguhnya saya datang kemari mencari gadis untuk meminta bantuannya, di mana saya bisa menemui Sunan Gunung Jati?” Dengan tersenyum akhirnya Sunan Gunung Jati berterus terang siapa dirinya. Dengan pengakuan tersebut, Syekh Magelung berganti nama dengan sebutan Pangeran Soka. ***