H. Juri, Peternak Eksis Pasca PMK, Piara Ratusan Sapi Besaran 80 Kwintal
▪︎ Blusukan di Desa Peternak Sapi di Lamongan (1)

▪︎ LAMONGAN – POSMONEWS.COM,-
Siang itu cuaca sedikit mendung, menemani perjalanan media ini mencari sisi lain, momen jelang Idul Adha. Sampai juga di desa yang dijuluki Kampung Peternak Sapi di Desa Wonokromo, Kecamatan Tikung, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.
Dijuluki kampung peternak sapi, artinya di desa Wonokromo yang terdiri dari 8 dusun yakni
Gabus, Wonorejo, Kanoman, Pilanggot, Mojokerep, Tlogogede, Blumbungan, dan Jatilangkir ini warganya rata-rata beternak sapi. Konon setiap warga di desa yang mayoritas petani ini memiliki 2-3 sapi di kandang belakang rumahnya.
Namun badai PMK (Penyakit Mulut dan Kuku) tahun 2022 yang menyerang hewan ternak, terutama sapi membuat para peternak itu merugi. Sapi mereka banyak yang mati. Ada yang masih hidup tetapi karena berpenyakit sehingga dijual dengan harga murah.
Kondisi ini membuat para petani yang memiliki pekerjaan sampingan beternak itu rugi. Bangkrut. Lebih parah, mereka trauma sehingga sejak saat itu tak ada lagi yang ingin memelihara sapi. Desa Wonokromo yang dulu sebagai gudang sapi, kini tinggal kenangan.
Beruntung di desa ini masih ada seseorang yang tetap bertahan sebagai peternak sapi. Meski di wabah PMK itu ia mengaku merugi 1,5 milliar. Saat itu ia memiliki 225 ekor sapi. Delapan ekor mati, sisanya sepertiga sehat dan lainnya terdampak virus PMK. Namun ia tak kapok dan terus nelanjutkan usaha ternaknya hingga saat ini.
Adalah H. Juri, peternak militan itu asal Dusun Pilanggot, Desa Wonokromo. Dengan pengalaman, kemampuan otodidak, tidak gampang menyerah, dan ketekunannya kini ia tetap eksis sebagai tokoh peternak di wilayah kecamatan Tikung itu.
Dikunjungi media ini di kandang ternak miliknya, tampak ratusan sapi dalam kondisi sehat dan siap menyuplai kurban di Hari Raya Idul Adha nanti.
” Alhamdulillah, saat ini di kandang saya piara 145 sapi. 95 sudah laku, 59 masih belum namun sudah banyak yang inden, melihat, atau kontak via seluler. Kondisi cukup baik, sehat, karena beberapa waktu ada kunjungan dari Dinas Peternakan, ” tutur H. Juri mengawali perbincangan.
Lalu, mengalirlah kisah pria ramah yang dulu alumni SMAN 1 Lamongan dan IKIP Negeri Surabaya (Unesa, red), tentang bagaimana ia menekuni dunia ternak sejak tahun 2006 itu.
Berkiprah hingga sukses sampai sekarang. Bahkan dua kali usaha ternaknya yang bernama Sumber Jaya dikunjungi Gubernur Jawa Timur, Ibu Khofifah Indar Parawansa.
“Sekali di era bupati H. Fadeli dan sekali di kepemimpinan Pak Bupati Yes. Seharusnya juga ada rencana kunjungan ketiga dari ibu gubernur, tetapi kelihatannya masih terkendala PMK,” lanjutnya.
Masih menurut H. Juri, selepas wabah PMK ini memang menjadi pertaruhan untuk tetap lanjut menekuni usaha peternakan itu atau menyerah. Ia yakin bisa bangkit dan eksis seperti sebelum badai 2022 itu.
Selain tetap berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan, ia juga secara otodiak belajar dari medsos, informasi, pengetahuan yang sifatnya gethok tular tentang pengendalian penyakit ternak sapi. Tentang makanan dan kebersihan kandang piaraannya yang ratusan itu.
Ia mempekerjakan 14 orang untuk siang hari, dan tenaga lembur 3 orang. Karyawan yang lumayan banyak ini bekerja menyeluruh untuk kandang, ternak, terutama makan, minum, membuat pakan fermentasi, kebersihan kandang yang satu atap di lahan H. Juri. Karena di sana juga ada kandang, ternak ratusan kambing dan ribuan bebek.
Lalu, mengapa H. Juri tidak tertarik dengan penggemukan sapi ektrem? Ia lebih tertarik untuk berat maksimal sapinya sekitar 70-80 kwintal.
“Untuk yang besar itu rata-rata terjual sekitar 60-70 jutaan. Tapi kadang masyarakat umum, atau lembaga lebih memilih di rata-rata harga 25-30 jutaan.
Saya memang tidak beternak sapi ektrem, yang penggemukannya hingga mencapai 1 ton. Ya karena bagi saya riskan, karena terus terang problem PMK itu menurut saya belum ada penuntasan paripurna. Sehingga kita harus ikhtiar preventifnya, tetap waspada, terhadap munculnya wabah ini,” pungkasnya.
▪︎[DANAR SP]

