Berita Utama

Dampak Banjir, Normalisasi Sungai Juwana Berkelanjutan

▪︎ Dimulai 2026 Skema Anggaran Tahun Jamak

▪︎ JATENG – POSMONEWS.com,-
Musibah banjir melanda Kabupaten Kudus dan Kabupaten Pati, Jawa Tengah, sejak 10 Januari 2026 lalu menjadi perhatian serius Kementerian Pekerjaan Umum (PU).

Tingginya intensitas hujan memicu meluapnya sungai dan merendam sejumlah kawasan permukiman, infrastruktur, serta akses penghubung antarwilayah.

Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana Direktorat Jenderal (Ditjen) Sumber Daya Air (SDA) Kementerian Pekerjaan Umum (PU) memastikan normalisasi Sungai Juwana yang melintasi Kudus dan Pati akan dilanjutkan. Pekerjaan tersebut direncanakan mulai dilaksanakan pada 2026 dengan skema anggaran tahun jamak.

“Pati dan Kudus bisa dikatakan satu paket karena dari satu sungai, yaitu Sungai Juana. Normalisasi dan sudetannya mestinya bisa dikerjakan bersamaan, seperti Sungai Wulan yang sudah sukses. Terbukti tidak banjir lagi di perbatasan Demak–Kudus,” ujar Kepala BBWS Pemali Juana Ditjen SDA Kementerian PU, Sudarto, kemarin.

Meski demikian, pekerjaan normalisasi akan dilakukan secara bertahap. Selain membutuhkan anggaran besar, proyek ini juga masih menghadapi kendala pembebasan lahan di sepanjang alur sungai yang memerlukan koordinasi lintas daerah.

“Paling cepat tahun ini bisa dilaksanakan jika lahan sudah selesai dibebaskan. Saat ini, kami terus berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten (Pemkab) dan para pemangku kepentingan untuk menyelesaikan persoalan tersebut,” kata Sudarto.

Sementara Menteri PU, Dody Hanggodo, mengatakan sejak awal kejadian pihaknya langsung menurunkan tim ke lapangan untuk melakukan respons darurat, inspeksi infrastruktur terdampak, sekaligus mendukung komando penanganan bencana yang dilakukan pemerintah daerah. Baca berita tanpa iklan.

“Dukungan juga diberikan melalui pengiriman alat berat, peralatan pendukung, serta bahan dan sarana kebencanaan ke lokasi terdampak,” ujar Menteri Dody.

Penanganan banjir di Kudus dan Pati dilakukan secara terpadu melalui balai teknis Kementerian PU di Jawa Tengah. Kedua daerah tersebut berada dalam satu sistem sungai, yakni Sungai Juwana, yang menjadi kewenangan BBWS. Sebagai bagian dari respons cepat, BBWS Pemali Juana mengerahkan 20 unit alat berat.

Alat tersebut digunakan untuk menutup tanggul sungai yang jebol, membersihkan sampah yang menyumbat jembatan dan gorong-gorong, serta melakukan penggalian alur sungai guna memperlancar aliran air sejak awal bencana.

Upaya darurat juga dilakukan untuk memulihkan akses wilayah terdampak longsor. Akses utama menuju Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, yang sebelumnya tertutup material longsoran, kini berangsur terbuka.

“Alhamdulillah, desa yang sebelumnya terisolasi kini mulai terbuka aksesnya,” kata Kepala BBWS Pemali Juana, Sudarto.

BBWS Pemali Juana turut berkolaborasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat untuk mengalihkan alur sungai menggunakan krib dan bronjong. Untuk di atas struktur tersebut akan dibangun jalan darurat agar dapat dilalui kendaraan roda empat.

Penanganan juga dilakukan pada longsoran tanggul Sungai Suwatu di Desa Bulumanis Kidul, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, sebagai bagian dari upaya pengamanan sungai dan perlindungan kawasan permukiman warga.

Hasil rapat koordinasi di Kantor DPRD Kudus pada 16 Januari 2026 mencatat, sebagian besar wilayah terdampak banjir di Kudus telah berhasil ditangani. Genangan air dilaporkan berangsur surut seiring berjalannya penanganan darurat di lapangan.▪︎(FEND)

Related Articles

Back to top button