Berita Utama

Rebo Wekasan, Doa Tolak Bala

▪︎POSMONEWS.COM,-
REBO WEKASAN bertepatan tanggal 21 September 2022. Lantas ada apa dengan Rebo Wekasan? Mengapa semua orang membicarakan? Benarkah Rabu terakhir itu segala doa terkabulkan? Amalan apa saja yang dianjurkan.

Sejarah Rebo Wekasan banyak dicari netizen menjelang hari Rabu terakhir di bulan Safar, bulan dalam penanggalan Hijriyah.

Benarkah Rebo Wekasan berasal dari tradisi Wali Songo, ada pula yang mengatakan bahwa tradisi ini berawal dari ilham orang yang sangat saleh.

Lantas, bagaimana sebenarnya sejarah Rebo Wekasan? Kapan bacaan doa tolak bala sesuai sunnah dan ajaran Islam. Rebo Wekasan diperingati setiap hari Rabu terakhir pada bulan Sapar atau Shafar, saat ini bertepatan tanggal 21 September 2022.

Sejarah asal mula Rebo Wekasan sudah ada sejak zaman Wali Songo dan masih dilestarikan sampai sekarang oleh sebagian orang. Tradisi Rebo Wekasan sendiri kebanyakan diperingari masyarakat Jawa, Sunda, Madura, hingga Sumatera.

Menurut beberapa ulama, Rebo Wekasan merupakan tradisi yang tidak dianjurkan karena tidak ada ajaran sunnah dari Rasulullah SAW. yang mengatakan bahwa di bulan Shafar diadakan hal tersebut.

Rebo Wekasan sendiri bermula dari kepercayaan orang terdahulu yang mengatakan bulan Shafar adalah bulan yang banyak terjadi malapetaka.

Rasulullah Muhammad SAW. dalam sebuah hadist sebagaimana diriwayatkan Bukhari dan Muslim bersabda:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ وَفِرَّ مِنْ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنْ الْأَسَدِ

“Tidak ada ‘adwa, thiyarah, hamah, Shafar, dan menjauhlah dari orang yang kena penyakit kusta (lepra) sebagaimana kamu menjauh dari singa.”(HR Bukhari dan Muslim).

Sebagian masyarakat di Indonesia sendiri memperingati Rebo Wekasan pada setiap hari Rabu terakhir bulan Safar. Biasanya saat Rebo Wekasan akan dilaksanakan salat, dzikir, doa, dan tabarruk dengan asma Allah atau ayat-ayat Alquran serta doa-doa keselatan atau tolak balak.

Selain itu di beberada daerah, Rebo Wekasan biasanya diperingati dengan mengadakan selamatan untuk tolak bala hingga larangan bepergian jauh. Tak hanya itu, sebagian masyarakat juga mempercayai setiap Rebo Wekasan harus menyucikan diri dengan melakukan mandi Safar.

Seperti halnya di Desa Suci, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, setiap Rebo Wekasan selalu mengadakan ritual mandi suci di sebuah telaga.

Mandi suci tersebut diharapkan mendapatkan berkah dari peringatam Rebo Wekasan. Diyakini perlu dilakukan sebagai salah satu cara untuk tolak bala. Tidak hanya itu saja, barang siapa yang mandi di telaga tersebut bisa awet muda.

Lantas amalan-amalan apa yang dilakukan saat Rebo Wekasan? Salat hajat lidaf’il bala’ al-makhuf (untuk menolak balak yang dihawatirkan) atau nafilah mutlaqoh (salat sunah mutlak) sebagaimana diperbolehkan oleh Syara’, karena hikmahnya agar kita bisa semakin mendekatkan diri kepada Allah.

Bagi umat muslim yang ingin memohon perlindungan dari Allah SWT, berikut bacaan doa tolak bala yang sesuai sunnah dan ajaran Islam:

اَللَّهُمَّ لاَ طَيْرَ إِلاَّ طَيْرُكَ، وَلاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ، وَلاَ إِلَـٰهَ غَيْرُكَ

“Allaahumma laa thoiro illaa thoiruk, wa laa khoiro illaa khoiruk, wa laa ilaaha ghoiruk”

Artinya: Ya Allah, tidak ada kesialan kecuali kesialan yang Engkau tentukan, dan tidak ada kebaikan kecuali kebaikanMu, serta tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau.

لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

Lailaha illa annta subhanaka inni kuntu minadhdhalimin

Artinya: “Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.”

وَذَا النُّوْنِ اِذْ ذَّهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ اَنْ لَّنْ نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادٰى فِى الظُّلُمٰتِ اَنْ لَّآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنْتَ سُبْحٰنَكَ اِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظّٰلِمِيْنَ ۚ

Wadzaa alnnuuni idz dzahaba mughaadiban fazhanna an lan naqdira ‘alayhi fanaadaa fii alzhzhulumaati an laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu mina alzhzhaalimiina

Artinya: “Dan (ingatlah kisah) Zun Nun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap: ‘Tidak ada tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.”**(zubairi indro)

Related Articles

Back to top button