Ritual Penarikan Pulung Kemenangan

* Perang Metafisik Pilkada Jatim – 5
Di edisi sebelumnya telah dibahas bagaimana keberadaan pulung pembawa keberuntungan dan kemenangan seseorang calon pemimpin rayat di gelaran Pilkada. Menurut sejumlah tokoh winasis menyebut bahwa pulung itu masih melayang- layang di angkasa dan sedang mencari wadah. Dalam konsep Jawa lainnya disebut curiga manjing warangka.
Kepercayaan tradisional menempatkan pulung sebagai tengara seseorang mengantongi anugerah sekaligus amanat. Kemenangan dalam pilkada di antaranya dapat dilihat dari tanda-tanda siapa yang direstui oleh Tuhan dengan tanda atau fenomena alam dan manusia yang menyimpulkan bahwa dialah yang dilingkari energi kejayaan itu.
Pulung seolah menyimpan kekuatan gaib yang mengantarkan seseorang menduduki kursi kekuasaan. Dalam perspektif agama, ia ibarat wahyu yang dengannya seseorang menjalankan misi kenabian. Tak heran jika orang-orang Jawa dengan corak pandang konservatif melekatkan kemuliaan pada pulung. Bagaimanapun, ia identik dengan distempelí atas kepemimpinan seseorang dalam suatu komunitas.
Nah, demikian halnya di pesta demokrasi di Pilkada saat ini kerap diwarnai dengan keyakinan tentang siapa yang menerima pulung. Ada sisi negatif yang patut diwaspadai. Misalnya fenomena yang dimanfaatkan oleh sejumlah oknum untuk meraup keuntungan. Tidak jarang mereka sengaja menyebar desas-desus bahwa salah seorang, sebut saja Si Suto Si Naya telah dihinggapi pulung kemenangan.
Harapannya, optimisme dan semangat pendukung calon lain menurun. Suasana batin dan psikologi tim sukses rentan terpengaruh oleh peristiwa turunnya pulung dari atas. Pulung menghidangkan sesuatu yang kontradiktif. Di satu sisi, ia menjanjikan keberuntungan bagi siapa yang mendapatkannya. Di sisi lain, ia merupakan kabar buruk bagi calon lainnya.
Keyakinan ini merupakan warisan budaya Hindu yang masih terpelihara : terdapat tandatanda tertentu sebelum seseorang dikukuhkan menjadi pemimpin. Beberapa simbol dan lambang menandai seseorang selaku ’manusia terpilih’. Ini menjelaskan adanya hubungan antara budaya politik dengan keyakinan manusia. Meskipun tidak dapat dicerna logika, sebagian masyarakat Jawa meyakini keberadaan pulung yang berbau mistis.
Sekali lagi membahas pulung, posmonews. com Jumat (11/9) menghubungi Gus Luqman Rahmatullah, pengasuh Pondok Pesantren Sunan Drajat Giri Noto di Desa Dradah Blumbang, Kec. Kedungpring, Lamongan. Kiai muda ini membenarkan tentang pulung itu sebagai isyaroh seseorang sebagai orang pinilih. Pemimpin terpilih yang akan memenangi sebuah kontestasi demokrasi dan politik di tanah air yang disebut Pilkada serentak, yang gong-nya di tanggal 9 Desember 2020 nanti.
“Memang telah banyak prediksi baik itu secara fisik dan metafisik, tentang calon yang diunggulkan karena fakta-fakta ketokohan, kiprahnya, dukungan politis, basis masa, dll sehingga merekalah yang disebut sebagai calon pemimpin yang dikehendaki rakyat. Di atas kertas mereka diprediksi menang. Nah, itu hakekatnya bahwa mereka ini lah tokoh yang telah kadunungan pulung. Tapi, hal ini bisa berubah jika di perjalanan nya si tokoh ini melakukan kesalahan yang fatal, berupa tindakan buruk dan jahat, ” katanya.
Dalam pewayangan, lakon Petruk dadi Ratu, digambarkan satria Pandawa kehilangan mahkota, pulung rajanya karena melakukan kesalahan pada rakyat. Pulung mahkota jatuh pada Petruk, sang ponakawan yang hakikatnya tentu tidak pantas (layak) untuk menjadi raja. Saat memerintah Petruk akhirnya sak kepenake dhewe, semau gue, adigang adigung adiguna, melanggar tatanan baik agama maupun sosial, akhirnya pulung raja itupun oncat dari si Petruk.
Jadi, menurut Gus Luqman, ada cara untuk melanggengkan pulung itu. Juga untuk menarik pulung itu agar bisa masuk ke dalam tokoh dengan wadah yang suci dan semestinya. Hal itu diakuinya, karena beberapa kali ia telah melakukan ritual penarikan pulung itu untuk membantu seseorang.
” Kalau sekarang ramai tentang pulung itu, ya memang faktanya bahwa harus diseimbangkan antara faktor fisik dan religi (spiritual) sehingga menjadi sempurna kemenangannya. Jangan nanti ada raja tanpa mahkota. Pulung itu harus direngkuh. Caranya ya jelas ada, tapi tidak etis saya paparkan di sini. Ritualnya dengan tetap berlandaskan religi dan spiritual dan mudah dijalankan, ” lanjut kiai gondron yang juga pengasuh Kesatuan Pemuda Penjaga dan Penegak Keadilan (SAPU JAGAD) ini.
Di akhir wawancara, Gus Luqman kembali menyatakan pada semua paslon pilkada di Jawa Timur baik yang direkom partai maupun dari jalur independen, baik yang diunggulkan maupun tidak, harus tetap semangat agar pesta demokrasi yang akan tergelar berjalan sesuai pakem. Karena menurut kiai nyentrik ini, memang ada di antara tokoh paslon-paslon itu belum paham atau tidak mau melihat bahkan menggali potensinya dari sisi sejarah, trah, dan spiritual sehingga ia kalah pamor. Ia contohkan di Pilkada Lamongan, saat ditanya posmonews. com, dia jelas melihat potensi di salah satu paslon.
“Pasti lah. Saya ini suka tantangan dan senang ciptakan bom atau kontra intelijen. Jadi model si Paslon saya senang. Masalah yang jadi kan beda lagi. Tapi kalau betul ia mau nurut aku minimal 40 % strategi saya yang jalan tetap bisa. Kalau saya sih sebenarnya ingin jadikannya karena trahnya Giri juga kuat, tapi dia sendiri tidak ada merapat ke sini karena orang-orang disampingnya ya tidak tahu saya. Kalau dia tidak respon maka YES yang juga punya garis itu yang kuat dan jaya,” tukasnya.
(DANAR SP)




