Pro Kontra Haji Satu Hari

203 dibaca

Oleh: Mundzar Fahman

HAJI satu hari jelas dapat mengurangi jumlah hari jamaah haji di Mina dan kepadatan manusia di sana.

Tapi jika jumlah jamaah haji tiap tahun masih sama seperti selama ini yaitu sekitar 2 juta orang dari seluruh dunia, ya kepadatan orang di Makkah-Madinah, terutama waktu wuquf di Arafah, tetap tidak berkurang. Potensi kerumunan tidak bisa dihindari. Potensi penularan Corona atau Covid-19 tetap besar.

Itungannya gini:
Taruhlah ada 2 juta calon haji dari seluruh dunia.

Tanggal 8 Dzulhijjah, sekitar 80 persen dari 2 juta calon haji sudah harus berada di Kota Mekkah. Yang 20 persen masih di luar Kota Mekkah.

Tanggal 9 Dzulhijah, 100 persen dari 2 juta calon haji harus “tumplek blek” di Arafah. Nah, dapat dibayangkan kayak apa berjubelnya orang di Arafah pada hari itu (hari Arafah), dan betapa padatnya lalu lintas dari Kota Mekkah ke Arafah dan sebaliknya.

Ibadah haji intinya adalah wukuf di Arafah tanggal 9 Dzulhijjah. Yang tidak ikut wukuf berarti sama saja tidak haji.

Nah, sepanjang jumlah calon haji tiap tahun tetep seperti selama ini (2 juta orang) dan wukufnya harus bersamaan pada hari Arafah, ya tetep saja terjadi kepadatan orang di Mekkah, terutama di Arafah.
Kecuali jika jumlah calon haji tiap tahun dikurangi dari yang sekarang ini.

Misalnya 1 juta, atau pun hanya 500 ribu orang. Atau, jumlahnya tetep tapi wukuf di Arafah-nya boleh kapan saja seperti yang diwacanakan Pak Masdar Farid Mas’udi.

Misalnya ada kloter-kloter yang wukufnya tanggal 5, ada yang tanggal 10, tanggal 15, tanggal 20, tanggal 25, tanggal 30 bulan Dzulqa’dah (ulan Selo).

Ada kloter-kloter yang wukufnya tanggal 5, ada yang tanggal 10, tanggal 15, tanggal 20, tanggal 25, dan tanggal 30 Dzulhijjah. Sehingga jamaah dapat dibagi sesuai tanggalnya. Tidak berjubel di Arafah-nya, atau pun di Mina-nya.(**)