Raden Wijaya, Surabaya dan Pancasila

171 dibaca

Oleh: Mahmud Suhermono
(JTV Surabaya)
Suatu siang 1 Juni 1293, Raden Wijaya dengan didampingi penasehat utama Arya Wiraraja, pendukung setia Sora, Nambi dan Ronggolawe serta pasukannya, baru saja kembali dari Ujung Galuh, untuk mengusir bala Tentara Tartar Mongolia dari Bumi Pertiwi.
Yaa.. sehari sebelumnya pada 31 Mei 1293, Raden Wijaya memang berhasil memulangkan bala tentara Kubilai Khan ke negaranya. Dalam catatan sejarah, itulah kekalahan pertama Tentara Tartar, setelah selalu menang dalam setiap invasi dan berhasil menguasai hampir separoh belahan dunia.
Di kemudian hari, tanggal 31 Mei 1293 ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Surabaya hingga kini. Namun entah kenapa nama Raden Wijaya jarang disebut dan tidak dijadikan sebagai branding di kota Pahlawan ini.
Padahal menantu Kertanegara (Raja Singhasari terakhir) ini, mencatat sejarah besar dengan membuat malu tentara Tartar yang dipimpin oleh Ike Mase, Shi Bi dan Gaoxing.
Sekitar 30 Ribu pasukan yang dimabuk kemenangan usai menaklukkan Kerajaan Kediri itu, dihajar dan dikejar-kejar mulai dari wilayah Kediri hingga kemudian melarikan diri menyusuri Kali Brantas sampai ke Pelabuhan Ujung Galuh.
Tentara Tartar mengerahkan penyerbuan besar-besaran ke Tanah Jawa, setelah utusannya Men Shi atau Meng-qi dipotong telinganya oleh Kertanegara pada tahun 1292. Hal itu sebagai simbol Kerajaan di Tanah Jawa menolak tunduk atau takluk pada Kekaisaran Mongolia.
Usai mengusir bala tentara Tartar, Raden Wijaya mulai membangun Kerajaan Mojopahit sebagai penerus Singhasari. Sebab, Raden Wijaya ini selain sebagai menantu Kertanegara juga merupakan keturunan langsung dari Ken Arok sang pendiri Kerajaan Singhasari.
Mulai 1 Juni 1293 dia menata dan merencanakan sistem kerajaan serta bagi-bagi kekuasaan dengan para pendukungnya.
(Entah kebetulan atau memang kehendak sejarah, 1 Juni 1945 Soekarno membacakan pidatonya tentang Pancasila, yang digalinya dari filsafat kehidupan rakyat di Bumi Pertiwi. Tanggal 1 Juni inilah yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Lahirnya Pancasila).
Setelah beberapa bulan berembuk dan persiapannya matang, pada 15 Nopember 1293, Raden Wijaya dinobatkan sebagai Raja Mojopahit pertama. Nambi diangkat sebagai patih, Ronggolawe diberi kekuasaan sebagai Bupati Tuban dan Sora menguasai bekas wilayah Kerajaan Kediri.
Arya Wiraraja ahli strategi yang juga penguasa Songenep (Sumenep), diangkat sebagai penasehat utama dan kemudian hari dianugerahi sebagai penguasa di daerah Lamajang (Lumajang) atau juga disebut sebagai Mojopahit Timur.
Sebagaimana kisah di sebuah kerajaan-kerajaan lainnya, intrik politik, asmara, pembunuhan, perebutan kekuasaan dan dendam selalu mewarnai sejarah kerajaan Mojopahit yang bertahan hingga tahun 1478. (**)