Corona Bikin “Bumi Dingin”

170 dibaca

Ternyata ada hikmah luar biasa besar di balik wabah Coronavirus disease 2019 (COVID-19). Kondisi bumi membaik. Gara-gara berkurangnya aktivitas manusia di luar rumah (stay at home), tidak beroperasinya transportasi publik, serta terhentinya mesin-mesin pabrik.
Setelah wabah COVID-19 muncul di Wuhan, Tiongkok, pada akhir Desember 2019, pemerintah Tiongkok memang bertindak sangat tegas. Mulai menghentikan kegiatan sehari-hari hingga menutup pembangkit listrik. Kebijakan ini pun membuat ’’bumi mendingin’’.
Hasil pantauan Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS) European Space Agency (ESA) melalui Satelit Sentinel-5 untuk perubahan kualitas udara pada Desember 2019 hingga Maret 2020 membuktikan itu. Emisi nitrogen dioksida (NO2) berkurang. Kualitas udara membaik.
Peningkatan kualitas udara tidak hanya terjadi di Tiongkok. Tapi juga di benua Eropa. Di Spanyol, Perancis, dan Italia pada Maret 2020 ini menunjukkan penurunan konsentrasi partikulat di udara dibanding Maret 2019 lalu. Ini setelah mereka ’’mengunci diri’’ atau lock down. Tak terkecuali di Indonesia. Berdasarkan data yang diambil iku.menlhk.go.id, udara di Jakarta jauh lebih bersih selama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
Dalam konteks ini kita patut berterima kasih kepada Virus Corona. Berkurangnya aktivitas manusia di luar rumah serta tidak beroperasinya sebagian pabrik dan transportasi publik membuat kualitas udara membaik. Selama ini pencemaran udara memang banyak disumbang dari pembakaran fossil fuel. Yang mengakibatkan konsentrasi gas rumah kaca (GRK). Yang kemudian menaikkan suhu bumi (pasca-revolusi industri suhunya terus naik). Lalu memengaruhi perubahan iklim (climate change).
Dalam kurun lima tahun terakhir, terdapat kejadian bencana terkait iklim ekstrem. Tidak hanya di Indonesia. Tapi juga di negara-negara lain. Kejadian iklim ekstrem yang terus berulang dengan luas wilayah terdampak yang semakin menyebar, mengingatkan untuk terus memperkuat upaya pengendalian perubahan iklim. Ancaman perubahan iklim tidak bisa ditanggulangi satu dua negara, melainkan memerlukan kerja sama antarnegara. Hal ini sebagaimana tertuang dalam kesepakatan Paris (Paris Agreement) yang ditetapkan pada 2015.
Virus asal Wuhan ini seolah hendak mengajak kita semua untuk lebih ramah terhadap bumi. Virus ini seolah hendak melawan berbagai ideologi pembangunan dan industrialisasi yang membuat ’’bumi memanas’’. Kita tidak menolak industrialisasi dan pembangunan. Namun bagaimana pembangunan ini harus berwawasan lingkungan. Memaksimalkan energi alternatif. Seperti energi panas bumi, energi angin, energi matahari, dan energi air. Karena itu, teknologi transportasi ke depan pun harus lebih ramah lingkungan. Menggunakan mobil listrik, mobil tenaga surya, mobil biofuel, dan lain-lain. Pemerintah sudah ada upaya ke arah sini. Tinggal percepatan dan segera memproduksi massal.
Semakin memanasnya bumi adalah produk manusia modern yang harus dikoreksi dengan menangani sumber penyebabnya. Yakni mengubah pola pengembangan energi, ekonomi sektoral, dan pola pembangunan konvensional menjadi pembangunan berkelanjutan yang berwasasan lingkungan.
Penulis buku ’’Sapiens’’, ’’Homo Deus’’, dan ’’21 Lessons for the 21st Century’’ Yuval Noah Harari dalam artikelnya di financialtimes.com berjudul ’’The World After Coronavirus’’ pada 20 Maret 2020 mengatakan, badai ini akan berlalu. Tetapi pilihan yang kita buat sekarang dapat mengubah hidup kita untuk tahun-tahun mendatang.
Manusia sekarang menghadapi krisis global. Mungkin krisis terbesar generasi kita. Keputusan yang diambil orang dan pemerintah dalam beberapa minggu ke depan mungkin akan membentuk dunia untuk tahun-tahun mendatang. Mereka tidak hanya akan membentuk sistem perawatan kesehatan kita tetapi juga ekonomi, politik, dan budaya kita. Kita harus bertindak cepat dan tegas. Kita juga harus memperhitungkan konsekuensi jangka panjang dari tindakan kita.
Dalam masa krisis ini, kita menghadapi dua pilihan sangat penting. Yang pertama adalah antara pengawasan totaliter dan pemberdayaan warga. Yang kedua adalah antara isolasi nasionalis dan solidaritas global.
Dan, di akhir artikel itu Yuval mengatakan, ’’If we choose global solidarity, it will be a victory not only against the coronavirus, but against all future epidemics and crises that might assail humankind in the 21st century.’’
Ke depan sepertinya kita memang perlu memilih solidaritas global. Bukan hanya untuk urusan Virus Corona. Tapi juga terhadap semua epidemi dan krisis di masa depan yang mungkin menyerang umat manusia di abad ke-21. Solidaritas global inilah agama masa depan manusia. Agama kemanusiaan. Agama kita semua. Yang melampaui sekat-sekat suku, agama, ras, golongan, dan bangsa.
Virus Corona saat ini seolah sedang melawan berbagai tindakan manusia yang telah membuat ’’bumi memanas’’. Manusia pun dibuat tidak berdaya. Dan kini sudah waktunya manusia mengoreksi dan mengevaluasi diri untuk membuat masa depan bumi yang lebih baik. (za/indopos)