Tempat Bersemayam “Jimat”

307 dibaca

Makam Raja-Raja Mataram (3)

Berziarah di kompleks pemakaman raja-raja Mataram-Islam di Imogiri, Kabupaten Bantul, DIY sangat menarik. Arsitektur kompleks bangunan itu sangat kuat pengaruh dari budaya Hindu-Jawa. Dalam catatan sejarah maupun antropologi terkait proses keislaman orang Jawa.

Mengapa disebut Pasarean Dalem Para Nata Pajimatan Girireja Himagiri? Demikian nama kompleks makam raja-raja Mataram-Islam. Dari aspek penamaan saja mudah dilihat, bagaimana signifikansi keberadaan makam dalam semesta pandangan dunia orang Jawa.

Pesarean diambil dari kata “sare” artinya tidur dalam bahasa Jawa, mendapat awalan pe dan akhiran an untuk menunjukkan tempat. Pesareanberarti kuburan atau pemakaman. Pajimatan berasal kata “jimat” yang artinya sesuatu yang dianggap berharga atau sakral karena dapat melindungi, dan mendapat dua suku kata yaitu awalan pa dan akhiran an untuk menunjukkan tempat. Pajimatan mengandung arti atau makna sebagai “tempat untuk jimat atau tempat pusaka”.

Sedangkan lmagiri berasaI dari dua kata, yaitu ima atau hima yang berarti berawan atau awan yang meliputi gunung, dan giri berarti gunung. Sehingga Imagiri berarti “gunung berawan atau gunung yang tinggi”. Ya, makam ini terletak di atas perbukitan bernama Bukit Merak, sebuah bukit yang masih satu gugusan dengan Pegunungan Seribu.

Merujuk kompleks makam Imogiri dalam Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya di Kemendikbud, disebutkan bahwa Pajimatan lmagiri berarti gunung berawan atau gunung tinggi yang merupakan tempat bersemayamnya “Jimat atau pusaka bagi Kerajaan Mataram”.

Dalam konteks inilah, Sultan Agung yang dimakamkan (sumare) pertama di tempat tersebut merupakan leluhur dan pusaka bagi dinasti Kerajaan Mataram.

Setelah Sultan Agung wafat dan dimakamkan pada 1646 M, kemudian para raja penerus wangsa ini, istri, anak, dan keturunannya juga turut dimakamkan di sini. Hingga pasca-Perjanjian Giyanti 1755 M, yang membagi Mataram menjadi Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta, maka raja, keluarga, dan kerabat kerajaan dimakamkan di Kompleks Makam lmogiri.

Sisi sebelah barat merupakan lokasi makam raja-raja dari Surakarta, sedangkan sisi sebelah timur merupakan lokasi makam raja-raja Yogyakarta.

Makam sangat penting bagi orang Jawa, tentu tidak terlepas dari adanya ritual ziarah kubur. Ritus ini merupakan tradisi masyarakat Jawa. Dalam tradisi ziarah kubur ini tidak hanya mewujud sikap hormat orang Jawa kepada leluhurnya. Tapi, seringkali terselip pula ungkapan harapan-harapannya beroleh berkah (pangestu) dari leluhur sebagai bekal mereka menjalani kehidupan. Banyak orang Jawa beranggapan, berziarah ke makam leluhur atau tokoh-tokoh magis tertentu dapat menimbulkan pengaruh positif. Kisah keistimewaan atau kesaktian tokoh yang dimakamkan menjadi daya tarik bagi tersendiri bagi orang Jawa yang ingin mewujudkan keinginan dan harapannya.(zub/berbagai sumber)