Memunculkan Mahabbah dan Cahaya Kemakrifatan

7,904 dibaca

Ilmu hikmah ini mengulas wedaran baik ke 4 syair Jaljalut. Yaitu Asmaul Husna Bahasa Suryaniah. Karya ulama klasik ahli ilmu hikmah. Di kalangan pesantren syair Jaljalut sudah sangat melekat. Menjadi amalan yang sir (rahasia hikmahnya) dijadikan perantara terkabulnya doa.

Baik ke 4 Jaljalut diamksud adalah :

Fakun yaa Ilahii kaasyifadh-dhurri wal-balaa * Bihayyin jalaa hammi bihallin bihalhalat.

Artinya : Maka jadilah Engkau wahai Allah Tuhanku, sebagai pembuka / pelenyap/pembebas kesengsaraan / kemelaratan/kesulitan dan bencana, berkat namaMu Hayyin (Yang Maha Pemberi Kecukupan), Hallin (Al-Waduud = Yang Maha Pengasih) dan Halhalat (Yang Maha Pelapang rezeki), lenyaplah kesedihan / kegundahan/kesusahanku.

Syair ke-4 kidung Jaljalut ini, menerangkan tentang kemurahan Allah subhaanahuwa ta’ala. Asma Hallin artinya Arrahman dalam asmaul husna = Yang Maha Pengasih, dan Halhalat = Yang berlebih-lebihan dalam memberi.

Penyusun syair ini, Syeikh Ahmad bin Ali al Buni, memuji Allah atas kemurahan-Nya yang diberikan kepada manusia dengan syairnya yang ke-4 ini. Syair itu dinyanyikan atau dikumandangkan terus menerus. Karena yang menyanyikan adalah orang yang dikasihi Allah (Waliyullah  – dalam hal ini Syeikh Ahmad), maka langit pun bergetar. Getaran-getaran langit itu menembus kalbu menjadikan setiap helaan dan hembusan napas menjadi bertuah (istilah sekarang berkekuatan/berenergi).

Bagaimana agar kidungan itu menggetarkan langit ? Tentunya kidungan yang beraroma rasa. Dan, yang berasa itu adalah suara hati, kelembutan hati. Halus, merdu, indah yang menghidupkan jiwa. Suara yang menggetarkan jiwa adalah suara yang soft (dingin), bukan berkhazanah panas yang menggentak-hentak. Jadi, suara tembang yang dikeluarkan lisan itu seirama dengan getaran hati, sehingga menggelorakan jiwa. Jiwa yang bergelora menjadikan jendelanya tak kuat menahan air mata, karena  senantiasa merasa bersama Tuhan. Itulah yang menjadikan para penghuni langit kelabakan, mereka pada terenyu sehingga ikut mendoakan kepada Tuhan.

Syeikh Ahmad memperhatikan dan mencatat waktu-waktu keluarnya hikmah saat syair ini dikumandangkan. Ketika  beliau membaca pada setiap pagi dan sore hari sebanyak 10 kali, maka hilanglah kesedihannya, terlindungi dari kejahatan, serta rezekinya datang tanpa diduga-duga. Pengalaman itu ditulis dalam kitab hikmah beliau ‘Syamsul Ma’arif’ (Mataharinya orang-orang bijaksana), sebagai penjelasan syair ke-4, dan diberitahukan siapa yang mewiridkannya pada pagi dan sore hari (setelah salat subuh dan salat maghrib), Insya Allah menjadikan kebaikan pada pewiridnya dan dikaruniai hikmah-hikmah tersebut.

Berikutnya, apabila diwiridkan setiap usai salat sebanyak 25 kali, maka Allah akan memberi kemurahan rezeki, mencukupi dalam segala sesuatu, memberikan kecerdasan pikiran, kefahaman dalam menerima ilmu-ilmu yang tinggi, dan diberi kemampuan (tidak bergantung pada orang lain).

Barang siapa setiap saat rutin berzikir syair ke-4 ini, maka segala komponen alam tertarik. Semua makhluk merasa cinta, dan Allah akan menetapkan kecintaan seluruh makhluk tersebut. Artinya, bila Allah mencitai seorang hamba-Nya, maka seluruh alam ditundukkan-Nya dan diberi kecintaan untuk hamba itu.

Syeikh Ahmad menjelaskan lagi, bahwa apabila diwiridkan sebanyak 400 kali setiap usai maghrib disertai membayangkan hati seseorang, maka orang yang dibayangkan itu menjadi tertarik dan timbul kasih-sayang, serta tunduk padanya. Cinta kasih itu tidak akan kendur, karena yang menjadikan Allah. Saking cintanya, maka tak mau berpisah. Inilah yang dimaksudkan ilmu mahabbah.

Selain hal tersebut, barang siapa yang membiasakan berzikir ‘Halhalat’ setiap hari usai Subuh sebanyak 72 kali, maka akan senantiasa dikaruniai kesenangan dalam hidupnya, serta Allah melapangkan rezekinya, menghidupkan hatinya dengan cahaya kemakrifatan. **** Bung Yon N.