Tersimpan Abu Jenajah Kertanegara

225 dibaca

Keberadaan Candi Singosari bukan hanya sebagai tempat wisata dan studi banding bagi perguruan tinggi. Zaman dahulu digunakan sebagai tempat pemujaan dan menyimpan abu zenajah. Berikut ini kisahnya.

Candi Singosari atau disebut Candi Ken Dedes di ketemukan tahun 1803 oleh Nikolas Agel Hard, seorang warga negara Belanda. Dipugar tahun 1934-937. Candi tersebut menghadap ke arah Barat. Tingginya 17 meter dan panjangnya 14 meter. Terbuat dari batu andesit. Berlokasi di Desa Candirenggo, Kec. Singosari, Malang.

Candi dibangun pada tahun 1273 Saka atau 1350 M itu terdiri dari satu ruangan induk dan tiga ruangan disisi luarnya. Pada bagian kanan dan kiri pintu masuk terdapat Arca Mahakala dan Nandiswara, namun keduanya disimpan di museum Leiden, Nederland Belanda. Ruangan sisi Utara berisi Arca Durgamahiswara Mardhini. Ruang sebelah Selatan berisi Arca Agastya. Ruang utama candi sekarang sudah kosong. Karena arca dan Lingganya telah dibawa ke Laiden bersama dengan beberapa patung. Kini tinggal Yoninya saja. Hanya dalam bilik sebelah Selatan saja yang masih ada patung Rsi Agastya.

Yoni tanpa Lingga itu hingga kini masih dipenuhi air. Meskipun saluran airnya telah terputus. Oleh sebagian masyarakat digunakan untuk mencari peruntungan. Mereka masih percaya kalau air dalam Yoni tersebut dapat mendatangkan keberuntungan. Seperti pelaris jualan di pasar maupun di tempat-tempat keramaian. Caranya, pada hari-hari tertentu mereka datang untuk mengambil air di dalam ruangan Candi Singosari. Mengingat disitu terdapat Yoni berisi air yang dianggap keramat. Kemudian air tersebut dibawa pulang dan dipercikkan ke dagangannya sambil mengatakan laris-laris.

Bagi yang berhasil akan senang. Karena tanpa memberikan ibalan tumbal nyawa. Namun cukup dengan membawa kembang. Sedangkan yang belum berhasil datang lagi dengan cara menyamar sebagai wisatawan domestik. Selain itu ada juga masyarakat yang berpandangan lain yaitu ingin mendapatkan nomor jitu. Dengan jalan masuk ke dalam ruangan candi pada malam atau siang hari. Banyak diantara mereka yang dapat nomor buntut setelah melekan semalam dan mendapatkan wangsit di Candi Singosari.

“Memang benar kalau ada orang yang melakukan tirakatan. Kemudian mendapatkan nomor buntut. Saya tahu orangnya. Jadi disini ini bukan hanya sebagai tempat wisata saja. Tapi urusan begituan juga ada,” ujar Sugiono juru kunci Candi Singosari Candirenggo Malang.

Air Keramat 

Keberadaan orang-orang yang berprilaku agak aneh di Candi Singosari itu sebenarnya telah mengubah tradisi kuno pada zaman Majapahit. Sebab dulunya berfungsi sebagai tempat upacara pemujaan terhadap arwah leluhur. Mengingat di candi tersebut terdapat abu jenajah Kertanegara Raja Kerajaan Singosari. Sedangkan airnya untuk kegiatan upacara keagamaan bagi umat Syiwa Buddha. Sebab air dalam Yoni itu merupakan air suci yang dipercikkan kepada umat yang melakukan kegiatan sembayangan pada hari-hari tertentu. Air tersebut dianggap keramat dan tidak boleh sembarangan digunakan.

Selain itu juga dimanfaatkan untuk ngalab berkah bagi orang-orang yang ingin dagangannya laris dan mendapatkan nomor jitu. Caranya cukup unik. Yaitu dengan memercikkan air dari dalam Yoni yang terdapat di ruangan candi ke barang dagangan biar laris. Begitu pula bagi masyarakat yang ingin mendapatkan nomor jitu, cukup dengan melekan semalam guna mendapatkan wangsit. CAHYA/ALAMSYAH