Terpenuhinya Hajat, Rezeki, dan Obat

642 dibaca

Syair kedua kidung Jaljalut menerangkan tuah atau keistimewaan Salawat Nabi. Begitu keramatnya berdoa untuk nabi, Allah Ta’ala sendiri berkirim salawat buat Rasulullah Muhammad Saw. “Innallaha wa malaikatahu yushollina  ‘ala Nabi”. Allah dan para malaikat bershalawat kepada nabi.

Membaca salawat, berarti berdoa memohon keselamatan dan kemuliaan untuk Rasulullah Saw. Hakikatnya adalah berdoa untuk dirinya sendiri. Dalam sebuah riwayat, Nabi Muhammad memuliakan seorang pemuda. Dalam sebuah majelis seperti biasanya, para sahabat berkumpul untuk mendengarkan fatwa-fatwa Rasulullah. Kala itu datanglah seorang pemuda yang setiap pagi dan petang membaca salawat. Maka, rasul memanggil pemuda itu mendudukkan di samping beliau yang posisinya lebih tinggi dari Abu Bakar. Pemuda itu dimuliakan karena banyaknya membaca salawat, belum ada yang menyamainya. (Kitab Durratun Nasihin bab Salat Tahajud, Red).

Itu hanya sepenggal perihal membaca salawat. Maka, Syekh Ahmad bin Ali al-Buniy menjabarkan keistimewaan salawat, dalam syair Jaljalut bait kedua. Bait tersebut mengandung berbagai sir (rahasia).

Dalam syair kedua:

Washallaitu fits-tsaanii ‘alaa khairi khalqihi Muhammadin man zaahadh-dhalaalati wal-ghalat.

Artinya: Aku bersalawat pada kedua kalinya untuk sebaik-baik makhluk Allah, yaitu baginda Nabi Muhammad, orang yang melenyapkan kesesatan dan kesalahan.

Bait tersebut memiliki berbagai keistimewaan. Di antaranya terkabulnya berbagai hajat. Bila memiliki hajat yang besar dan ingin terkabul, caranya syair ini dibaca secara istikamah sebanyak 111 kali. Setelah itu dilanjutkan membaca doa salawat:

 

Teks shalawat :

Allaahumma shalli ‘alaa sayyidinaa Muhammadin wa’alaa aali sayyidinaa Muhammadin shalaatan tuftahu lii bihaa abwaabar ridhaa wat-taisiiri watughlaqu bihaa ‘annii abwaabasy syarri watta’siiri watakuunu bihaa waliyyan wanashiiran yaa ni’mal maulaa wayaa ni’man nashiir.

Insya Allah apa yang dihajatkan dipenuhi Allah Ta’ala. Bila tidak, maka Allah menggantinya dengan yang lebih baik, dan lebih dibutuhkan.

Bait syair di atas jika ditulis 3 kali pada mangkuk ditambah surat Alam Nasrokh, kemudian dihapus dengan air mawar, kemudian diminum saat bangun tidur sebelum berkumur yang dilakukan selama 3 hari, maka Allah akan melapangkan hati. Dengan mudah menerima segala sesuatu yang bersifat kebenaran (ilmu hikmah), keluar dari kesulitan hidup (senantiasa dalam kesenangan).

Air tersebut jika diusapkan pada bagian tubuh yang tersengat hewan berbisa, atau mengobati suatu penyakit, insya Allah sembuh. Racun atau bisa yang ada di dalam tubuh menjadi tawar.

Rezeki

Apabila menginginkan rezeki lancar, caranya, syair tersebut ditulis menjadi wifiq atau azimat pada kertas atau kulit hewan. Kemudian sekeliling wifiqnya ditulis bait syair kedua tersebut, kemudian dibungkus dengan kain putih yang sudah diberi minyak wangi, lalu dibuat azimat, insya Allah dimudahkan dalam urusan rezeki.

Saat menulis azimat hendaknya dalam kondisi suci dan bersih, didahului salat hajat pada tengah malam. Sehari sebelum menulis, alangkah baiknya berpuasa, dan tidak tidur hingga penulisan azimat selesai. Puasanya lebih afdhal pada hari Kamis, sehingga penulisannya pada malam Jumat.

Sebelum azimat dibungkus, hendaknya dibacakan syair Jaljalut kedua sebanyak 1001 kali. Setelah genap jumlah bacaannya, tarik napas dalam-dalam sambil konsentrasi, kemudian ditiupkan pada azimat. Lebih kuat tuahnya hendaknya hembusan napasnya dilakukan tiga kali. Setelah itu baru dibungkus.

Biasanya, para ahli spiritual menggunakan azimat seperti ini ditulis pada selembar uang kertas, untuk dijadikan uang bibit atau uang kerezekian.

Menolak Kejahatan

Apabila dipergunakan untuk menolak berbagai kejahatan, bait syair tersebut sebaiknya diamalkan sebanyak 1000 kali setiap malam Jumat, dengan maksud menolak kejahatan orang-orang jahat atau orang-orang yang berniat jahat. Insya Allah mereka tidak mampu berbuat apa-apa sama sekali karena Allah.

Bukan hanya kejahatan manusia, tetapi juga kejahatan setan, jin, dan binatang buas juga pada menghindar. Insya Allah!

Demikian sebagian thariqah bait kedua kidung Jaljalut, yang diajarkan oleh Waliyullah Syekh Ahmad bin Ali al-Buniy, yang terangkum dalam Kitab Spiritual Manbaul ‘Ushulul Hikmah.  **** Bung Yon N.