Tafakur, Konsepsi Islam Jalan Menuju Tuhan (2)

241 dibaca

Bagi seorang muttaqin, tentunya ingin meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah. Setelah berada di terminal tobat, untuk meningkatkan tobatnya seorang sufi pindah ke terminal berikutnya yaitu terminal Zuhud. Zuhud artinya bertapa. Orangnya disebut Zahid. Zuhud merupakan kata majas, sebuah istilah. Pengertiannya menjauhi dunia materi. Karenanya, tidak harus mengasingkan diri, menyendiri hidup di hutan atau di gua. Bisa saja dilakukan di lingkungan tempat tinggalnya.
Tetapi, karena begitu keras dan gemerlapnya dunia, dikhawatirkan tergoda dan terpengaruh, maka seorang Zahid memilih untuk mengasingkan diri menjauhi keramaian. Bagi yang kuat hidup dalam keramaian, bisa juga ber-zuhud dalam keramaian.
Selama dalam pengasingan, seorang Zahid berasyik ria dengan Tuhan. Selalu beribadah pada Tuhan. Berpuasa, membaca al-Qur’an, memperbanyak shalat sunah, memperbanyak dzikir, dan bershalawat Nabi. Menundukkan hawa nafsunya. Ia makan dan minum demi untuk mempertahankan hidup. Jadi, makan dan minum agar tetap hidup. Ia sedikit tidur memperbanyak ibadah. Pakaiannya pun sederhana. Ia menjadi seorang Zahid dari dunia, karenanya tak tergoda oleh kesenangan dunia dan kelezatan materi. Yang diburu hanya kebahagiaan dan kelezatan ruhani. Itu tak akan dapat diperoleh tanpa jalan zuhud tersebut.
Seorang yang ingin dekat dengan Allah, wajib melaksanakan Zuhud. Sebab, tanpa Zuhud, maka akan melupakan ibadah kepada Allah. Seorang Zahid itu bukan berarti harus hidup nggembel, tidak punya uang. Sebab, yang demikian itu namanya Faqir atau miskin. Jelasnya, orang Zuhud itu juga mempunyai harta/uang, tetapi harta itu hanya di atas tangan tidak mempengaruhi hatinya. Ia hanya mengambil sekedar untuk bekal ibadah atau kepentingan keluarga, sedangkan lainnya untuk sedekah dan amal jariyyah.

Weruh Tanpa Tuduh

Zuhud itu merupakan jalan memperoleh ilmu Ladunni, ilmu yang diberikan langsung oleh Allah SWT kepada hambanya yang taat tanpa harus belajar. Yaitu ilmu yang mengerti segala sesuatu tanpa harus belajar. Mengetahui tanpa ada yang menunjukkan. Istilah Jawanya, ‘Weruh tanpa tuduh’. Sebagaimana hadits Nabi Muhammad saw. “Barang siapa ingin diberi ilmu oleh Allah tanpa belajar dan mendapat petunjuk tanpa ada yang menunjukkan, maka hendaklah melakukan Zuhud di dunia.”
Apabila sudah memperoleh kemampuan demikian, maka insya Allah tobatnya diterima oleh Allah swt. Dosa-dosanya juga diampuni. Pada gilirannya, ia menjadi kekasih Allah. Dikasihi oleh Allah. Bahkan dicintai manusia.
Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tinggalkanlah cinta kepada harta dunia, maka kamu akan menjadi kekasih Allah dan tinggalkanlah keinginan kepada haknya manusia, maka kamu akan dicintai oleh manusia.”
Penjelasannya, orang yang terlalu cinta harta dunia, maka akan selalu bingung. Dalam dirinya timbul rasa tidak pernah bersyukur. Dikala kekurangan, ia berpikir mencari jalan bagaimana memperoleh harta yang banyak. Pikirannya selalu mencari tambahan keuntungan. Jika rugi bingungnya setengah mati, nubruk ke sana ke mari mencari tambalan. Kalau beruntung sedikit masih saja mengeluh kurang banyak, berlari-lari mencari tambahan, bagaikan orang kebanyakan minum-minuman keras sampai mabuk. Ia tidak mengenal sanak saudara, yang ada dalam pikirannya hanyalah uang. Tidak rukun dengan kawan karena takut kalau diminta pertolongan dll.

Pangkat Sesudah Taqwa 

Menurut Syech KH. Abdul Jalil Hamid, seorang yang ingin dekat dengan Allah, dianjurkan tidak menikahi seorang wanita/pria yang bisa menghambat beribadah kepada Allah. Dengan kata lain, menikahi wanita/pria yang cinta dunia (menikahlah dengan wanita/pria yang shalehah/shaleh). Jikalau memang demikian, lebih baik memilih menjadi bujangan saja. Wanita/pria yang materialis dan hedonis, tentunya menuntut kepada suaminya/istrinya untuk mencari harta guna memenuhi kebutuhannya. Mendesak suaminya/istrinya untuk membeli ini dan itu. Iri jika melihat orang lain memperoleh kebahagiaan, misalnya membeli TV baru, membeli mobil baru dll. Maka, sang suami/istri akan mati-matian mencari harta. Jika menemui jalan buntu, barang gelap pun diembat (mencuri atau korupsi) dll. Tentunya, kesibukan memburu dunia itu dapat melupakan ibadah kepada Allah. Karenanya, ia akan menemui ketidakselamatan di dunia dan di akhirat.

Ada empat hal yang bisa memperoleh keselamatan di dunia, yaitu :
1. Hendaklah suka memaafkan kesalahan orang karena kebodohannya.
2. Hendaklah tidak melakukan kesalahan seperti orang bodoh.
3. Tidak mengharap-harap pemberian orang.
4. Hendaklah suka memberi kepada orang lain.

Menurut Mbah Hamid, yang dikabarkan sebagai seorang wali itu, Zuhud itu merupakan sebaik-baiknya pangkat sesudah taqwa kepada Allah. Sebab, Zuhud/menjauhi cinta harta dunia, maka ia akan memperoleh kedudukan yang luhur sebagaimana para ulama yang mempraktikkan ilmunya dalam hidup dan kehidupannya sehari-hari dan para ahli tashawuf yang berjalan di suatu jalan yang menuju kepada Allah. Nabi Muhammad SAW menyerukan, “Jika kamu melihat orang yang benar-benar diberi Allah melakukan zuhud dan mau memberi fatwa, maka hendaklah kamu mendekatinya, karena sesungguhnya dia adalah orang yang diberi hikmah oleh Allah Ta’ala.”

Artikel ini ditulis oleh Bung Yon, dan telah dipublikasikan di tabloid posmo secara bersambung pada tahun 2003. (bersambung). *** Bung Yon N.