Korbankan Jiwa Demi Mataram

161 dibaca

Cukup banyak cerita kepahlawanan yang berkembang di masyarakat khususnya Jawa Timuran. Dianggap dan dipercaya bahwasannya cerita-cerita tersebut sanggup menanam dan menumbuhkan rasa turut memiliki dan menjaga bangsa dan Negara ini. Sehingga generasi muda tidak lupa, untuk merebut kemerdekaan itu tidaklah mudah. Berikut tulisan Haris dan Cahya posmonews.com

SALAH satu cerita Ki Ageng Jangrana. Ia dikenal sebagai sosok pahlawan yang mau berkorban apa saja demi bangsa dan negara. Bahkan demi bangsa dan negara itu pula, ia rela mengorbankan nyawanya. Kegagahan, keberanian, dan keikhlasan Ki Ageng Jangrana dalam berjuang perlu ditiru dan diamalkan. Menurut sejarah dan beberapa literature, Ki Ageng Jangrana adalah masih keturunan Ki Ageng Brondong atau Pangeran Lanang Dangiran.
Disebutkan bahwa Ki Ageng Jangrana adalah salah seorang yang ikut membantu pentahtaan Pangeran Puger, yang waktu itu menjabat sebagai Susuhunan Pakubuwana I. Oleh karena itu, kemudian dia diangkat sebagai Adipati Kliwon, artinya dia membawahi Kadipaten yang meliputi sepanjang pesisir Lamongan hingga ke pesisir Blambangan (Banyuwangi). Pada suatu saat, Ki Ageng Jangrana bersama Adipati Cakraningrat dari Madura dipanggil oleh Susuhunan Pakubuwana I untuk menghadap.
“Ada tugas apakah kiranya sehingga Tuanku Susuhunan Pakubuwana mau memanggil hamba datang ke Kartasura?,” tanya Ki Ageng Jangrana begitu menghadap di ruang pertemuan. “Maafkan aku Paman berdua, bila panggilanku mengejutkan hati Paman berdua. Ada tugas yang hendak kulimpahkan kepada Paman berdua,” kata Pangeran Puger.
“Tugas apakah itu, Tuanku?,” tanya Adipati Cakraningrat. “Begini, Paman berdua. Beberapa waktu lalu kompeni, Belanda datang kemari. Mereka minta bantuanku untuk menangkap Untung Suropati yang sekarang terang-terangan menentang penjajah Belanda. Ada pun maksudku menugaskan Paman berdua ini untuk ikut membantu kompeni Belanda menangkap Untung Suropati hanya sebagai siasat agar Mataram tidak dituduh membantu Untung Suropati. Bagaimana, masih adakah pertanyaan yang hendak disampaikan kepadaku. Kalau tidak ada, segeralah Paman melaksanakan tugas ini!,”perintahnya.
Hati pun berat dirasakan Ki Ageng Jangrana dan Adipati Cakraningrat, yang dipaksa seolah-olah bergabung dengan kompeni Belanda untuk menangkap Untung Suropati. Dalam suatu pertempuran, Untung Suropati terbunuh dan mayatnya dibakar serta diinjak-injak hingga hancur oleh tentara kompeni Belanda. Berselang lama kemudian Adipati Cakraningrat pun menyusul wafat karena usianya telah lanjut.

Politik Adu Domba
Sejak kematian Untung Suropati, Kerajaan Mataram menjadi semakin benci kepada tentara kompeni. Ki Ageng Jangrana yang sudah sering bergabung dengan tentara kompeni banyak tahu kalau orang-orang Belanda itu sering melakukan tipu muslihat untuk menaklukkan musuh-musuhnya. Bahkan, tak jarang melakukan adu domba. Namun, apalah dikata, Ki Ageng Jangrana pun menyadari kedudukan di Kerajaan Mataram.
Meskipun begitu, secara-diam-diam dan sembunyi. Ki Ageng Jangrana menghimpun kekuatan untuk melakukan pemberontakan terhadap kompeni, yang dianggapnya sudah menyusahkan banyak masyarakat. “Selama ini kita hanya diadu domba di antara saudara sendiri. Sekarang marilah kita bersatu untuk mengusir bangsa Belanda itu dari tanah Jawa ini!,”kata Ki Ageng Jangrana kepada teman-temannya.
Rupa-rupanya niat Ki Ageng Jangrana untuk memberontak terhadap kompeni Belanda sudah tercium oleh tentara Belanda. Ki Ageng Jangrana dianggap kompeni Belanda sebagai seorang adipati yang mempunyai kekuasaan sangat besar di Surabaya dan sekitarnya. Kalau sampai melakukan pemberontakan dapat membahayakan kepentingan-kepentingan Belanda. Lalu, Belanda pun datang ke Mataram dan meminta kepada Susuhunan Pakubuwana I agar Ki Ageng Jangrana dibunuh saja. Belanda pun mengancam, kalau Mataram tidak mau membunuh Ki Ageng Jangrana, kompeni Belanda tidak akan mau lagi memberi bantuan keamanan bagi Kerajaan Mataram.
Kabar tentang kehendak kompeni Belanda untuk membunuh Ki Ageng Jangrana yang menjabat sebagai Adipati Surabaya itu telah tersebar luas dan membuat sedih rakyat Mataram. Ki Ageng Jangrana yang juga telah mendengar kabar itu merasa tersinggung dan sangat marah kepada kompeni. Dia segera mengumpulkan semua pengikut dan teman-temannya untuk melakukan perundingan.

Rela Mati Demi Kejayaan
“Tak mungkin kita menghadapi pasukan kompeni Belanda yang memiliki persenjataan sangat lengkap. Kita tak akan menang. Biarlah aku akan menyerahkan diri saja ke Mataram. Aku tak ingin keselamatan dan kejayaan Mataram terganggu hanya karena aku. Aku rela mati demi kejayaan dan keselamatan Kerajaan Mataram. Untuk itu, biarlah aku serahkan pemerintahan di Kadipaten Surabaya ini kepada adikku, Jayapuspita,” kata Ki Ageng Jangrana.

“Tapi, Kakak!,” Jayapuspita berniat mencegah keinginan kakaknya itu. “Sudahlah. Keputusanku tak bisa diubah lagi. Baik-baiklah kamu menjadi penguasa di Surabaya ini adikku. Aku sekarang berangkat!,” Semua orang mengantar keberangkatan Ki Ageng Jangrana ke Mataram untuk menerima kematiannya dengan tangis hati yang pilu.
Pada waktu itu, Ki Ageng Jangrana telah mempersiapkan segalanya, dia telah memotong rambut, memotong kuku, dan membersihkan sekujur tubuhnya dengan air suci, dan pakaian yang dikenakannya adalah yang berwarna putih. Akan tetapi, belum sampai di ruang pertemuan Kerajaan Mataram, Ki Ageng Jangrana telah dikeroyok hingga meninggal. Kemudian jenazahnya dimakamkan di daerah Kartasura, tepatnya di desa Sentanan. Kini, pusaranya dilindungi dengan pohon-pohon bamboo.***