SUFI KELAS BERAPA?

137 dibaca

“Mas, sampean ini pasti suka berzikir, dimana belajarnya?” “Saya belajar berzikir tidak dimana-mana Pak. Kadang-kadang di kedai ini, di pasar sambil makelaran, di sawah sambil mencangkul dan di pinggir sungai sambil memancing, kadang-kadang ketika saya sedih, gembira, bahagia maupun duka.” “Lho! Maksud saya Anda belajar pada siapa dan dimana?” “Saya belajar pada siapa saja. Tapi, Mursyid saya atau pembimbing tarekat Sufi saya cuma satu.”
“Ooo, jadi sekarang Anda sudah kelas berapa?” “Saya tidak sekolah Pak! Saya hanya jebolan SD, lalu keluar jadi makelar dan blantik wedhus.” “Bukan itu Mas! Anda ini kelas berapa dalam dunia tasawuf?”
“Hahhh, kelas berapa, ya? Mungkin saya ini masih kelas nol, pak? Atau barangkali saya ini sudah professor Pak di dunia Sufi, tetapi profesor gendheng Pak!”
Itulah cuplikan dialog antara Pardi dengan seorang pendatang baru di kedai Cak San. Rupanya ia mengamati gerak-gerik Pardi, dan setelah berbincang ngalor-ngidul mereka jadi akrab. Bahkan perbincangan mulai mengarah ke dunia tasawuf. Sedikit banyak Pardi bisa merespon. Namun, ketika Pardi ditanya soal tingkat atau kelas berapa di dunia tarekat? Pardi malah geleng-geleng kepala. Sebab, dalam tradisi tarekat orang itu tadi, ada tahap dan kelas-kelas yang bisa dialamatkan pada pelakunya sendiri-sendiri.
Sementara selama hidupnya Pardi tidak pernah mengenal kelas, bahkan Kang Soleh dan Kiai Mursyid pun tidak pernah membincangkan soal kelas atau posisi ruhani seseorang dalam pengajian Sufinya. Satu-satunya kalimat yang pernah didengar dari Kiai Mursyid dulu, bahwa “Maqam atau Haal, atau pun tahap ruhani pelaku Sufi itu tidak bisa ditentukan pelakunya. Tetapi oleh Allah sendiri yang berhak menentukannya. Jadi, misalnya seseorang sedang berada di maqam hamba, lalu ia ingin naik kelas ke maqam ‘arifin billah, juga tidak bisa. Sebab yang menaikkan itu adalah Allah sendiri.”
“Kalau Bapak sendiri kelas berapa?” “Saya sudah hampir kelas tujuh Mas.” “Hebat Pak. Nanti ada ijasahnya segala ya…” “Hmmmm…nggak ada. Tapi…hmmm, saya tahu, saya hampir kelas tujuh.” Mendengar ucapan orang itu Pardi hampir tertawa, kalau saja ia tak bisa menahan perutnya. Dulkamdi yang diam saja, ikut angkat bicara. “Wah, kalau ada kelasnya begitu, mending saya nggak usah belajar tasawuf saja Pak.” “Lho, harus dik. Nanti malah cilaka. Jadi kalau sudah lulus, nanti adik bisa ma’rifat.” kata orang itu ngotot.
Kang Soleh baru saja masuk kedai dan memesan kopi. Yang lain juga gemruduk berdatangan. Beberapa saat mereka mendikusikan berita koran tentang negeri yang dicabik-cabik oleh sifat-sifat syaithaniyah, kedengkian dan keirian yang maniak. Akhirnya, toh perbincangan kelas dunia Sufi menjadi sentuhan tersendiri ketika Pardi membuat intermezo. “Bagaimana kalau bangsa ini kita naikkan ke langit sana, biar lebih unik lagi?” usul Pardi.
“Kamu jangan ngigau. Jangan pula sok sufi. Kamu sendiri saja nggak bisa menaikkan dirimu ke langit kok, apalagi banyak orang…” sela Kang Soleh. “Katanya kita punya kelas tersendiri dalam Sufi, satu sama lain berbeda Kang.” “Siapa yang bilang.” “Bapak ini….!” “Mungkin kamu salah tangkap Di. Barangkali dimaksudkan adalah tingkatan orang memasuki atau mengamalkan dunia Sufi. Tetapi yang berhak menggolongkan kelas itu bukan kamu, tapi Allah itu sendiri….”
“Nah, saya hampir bicara begitu Kang. Tapi Bapak ini katanya bisa menaikkan dirinya atau menurunkan dirinya di kelas Sufi mana…” “Maaf Pak,” kata Kang Soleh.
“Banyak maqam dalam ajaran Tasawuf. Tetapi maqam atau haal dalam dunia tasawuf itu hanya merupakan klasifikasi akadmeis atau pendekatan pengetahuan tentang Sufi agar kita mudah belajar. Soal dimana derajat kita di hadapan Allah, Allah Sendiri yang berhak menentukannya. Karena itu dalam Kitab Al-Hikam disebutkan, agar kita jangan banyak mengintai rahasia-rahasia keghaiban, lebih baik kita melakukan apa yang menjadi kewajiban kehambaan kita. Apalagi mencari karomah atau kelas-kelas itu, nantinya kita malah tidak mendapatkan Allah, namun hanya dapat makhluk Allah. Sial kan jadinya….”
“Kalau begitu saya dan teman-teman saya salah dong Kang?” tanya orang tersebut. “Cara berzikir Bapak sudah benar. Tapi doktrin tentang kelas-kelas itu, hanyalah gambaran tentang keragaman perjalanan para Sufi menuju Allah. Bukan merupakan norma yang kemudian dijadikan ideologi, bahwa seseorang mesti punya hak untuk menentukan tahapan-tahapannya.”
“Alasannya Kang?” “Lha wong kita ini mengatur nafas dan gerak syaraf kita saja tidak bisa kok Pak? Apalagi mengatur tahapan ruhani kita….coba renungkan kalimat saya tadi….” kata Kang Soleh, yang disambut dengan suasana hening di kedai Cak San itu. ***

Mohammad Luqman Hakiem MA
Jakarta Sufi Center