Keturunan Pangeran Sekar Seda Lepen

655 dibaca

SOSOK KH. Khozin Mansur adalah putra kesepuluh dari pasangan KH. Muhammad  Mansur  dengan ibu Nyai Hj. Maimunah binti Nur Syam bin Abdul Hafidz. Lahir di Desa Mayangang, Kecamatan Peterongan (Jogoroto) Kabupaten Jombang, Jatim,  pada tahun 1912 M atau 1331 H. Berikut catatan Cak Mus dari posmonews.com.

Sejak kecil KH. Khozin Mansur pendiri Ponpes Manbaul Hikam, hidup dilingkungan keluarga  religius. Pendidikan dan ilmu agamanya diperoleh dari kedua orang tuanya dan sang kakek bernama Mbah Minhaj. Sosok Mbah Minhaj adalah guru agama yang mengajarnya saat menuntut ilmu di bangku sekolah rakyat (SR).

Sejak usia belia, KH. Khozin sudah mempunyai semangat menuntut ilmu pengetahuan. Usai menyerap pokok-pokok ilmu agama yang diberikan oleh Mbah Minhaj dan ilmu-ilmu lain dari SR. KH. Khozin melanjutkan sekolahnya di Desa Parimono (sekitar 5 km arah Selatan Desa Mayangan, Jombang). Pendidikan dasar seperti umumnya ditempuh selama enam tahun.

Setelah tamat menuntut ilmu pada pendidikan tingkat dasar di Mayangan dan Parimono. KH. Khozin dipasrahkan oleh abahnya (KH. Mansur) kepada KH. Hasyim Asy’ari untuk bisa belajar ilmu-ilmu agama di pondok pesantren yang beliau pimpin, yaitu Tebu Ireng Jombang.

Bertahun-tahun mondok di Tebu Ireng betul-betul dimanfaatkan KH. Khozin untuk mengkaji kitab- kitab hadits. Keilmuan kaum Ahlussunnah Waljama’ah yaitu kitab Al-Bukhori karya Abi Abdillah Muhammad bin Ismail Al-Bukhori, dan kitab Muslim karya Imam Muslim. Di samping mengkaji kitab-kitab di atas, KH. Khozin juga menerima pengajaran kitab Fathul Mu’in (disiplin kajian fiqih) secara langsung dari Hadratus Syaikh.

Saat nyantri di Tebu Ireng KH. Khozin Mansur mempunyai kenangan spesial dengan Gus Kholik Hasyim putra KH. Hasyim Asyari. Hampir tiap pukul 01.00 WIB dini hari, Gus Kholik datang dan mengetuk pintu kamar KH. Khozin. Lalu mereka berdua pergi ke warung kopi untuk sekedar ngopi dan bercengkrama. Setelah itu, mereka berdua kembali ke kamar untuk muthola’ah kitab.

Dilihat dari segi nasab, ayauh beliau, KH M Mansur bukanlah nasab orang biasa. KH. M Mansur biasa disebut dengan Abdul Bakir  bin Arya Reja bin Arya Kromo bin Arya Penangsang bin Pangeran Sekar Seda Lepen.

Dalam Babad Tanah Jawi, Pangeran Sekar adalah adik Pangeran Sabrang Lor, Adipati (Y) Unus, Raja Demak ke-2 sesudah Raden Patah. Setelah wafatnya Adipati Unus, Pangeran Sekar meninggal dunia dalam usia muda karena dibunuh oleh sekelompok ‘orang misterius’ suruhan Sunan Prawata (anak Raden Trenggono), saat Pangeran Sekar dalam perjalanan pulang dari masjid menuju rumahnya.

Kematiannya ditafsirkan oleh para sejarahwan bermuatan politis yaitu terkait dengan suksesi kepemimpinan Kesultanan Demak. Jika Pangeran Sekar dibiarkan hidup dikhawatirkan tahta Demak akan pindah ke tangannya. Jasad beliau lalu dilemparkan ke sungai. Oleh karena itu, ia dikenal dengan sebutan Pangeran Sekar Seda Lepen (Pangeran Sekar yang wafat di sungai).

Pasca-kematian Pati Unus dan Pangeran Sekar, kerajaan Demak diperintah oleh Sultan Trenggono, pamannya Pangeran Sekar. Sultan Trenggono adalah ayah dari Sunan Prawata. Saat tragedi berdarah itu terjadi, Pangeran Sekar telah mempunyai anak laki-laki yang bernama Arya Penangsang.

Pasca-kematian ayahnya, Arya Penangsang diasuh dan dididik oleh Sunan Kudus sebab Sunan Kudus adalah disamping sebagai wali (tokoh agama) juga menjadi penasihat raja dalam urusan kemiliteran. Oleh karena itu, Arya Penangsang terkenal sangat sakti dan emosional.

Sepeninggal Sultan Trenggono, Arya Penangsang berniat merebut tahta kerajaan sebab saat di usia dewasa Arya Penangsang hanya menjadi adipati di wilayah Jipang. Untuk itu, ia harus menghabisi Prawata serta Pangeran Hadiri atau Adipati Kalinyamat, yang melindungi Arya Penggiri, anak Prawata. Untuk merealisasi tujuan-tujuan di atas, Arya Penangsang harus berhadapan, berkonflik politis dan militer dengan Jaka Tingkir (Sultan Hadiwijaya, menantu Sultan Trenggana).

Dalam menghadapi tantangan dari Arya Penangsang, Jaka Tingkir harus mengerahkan banyak tenaga, pikiran dan taktik-taktik yang akan dipergunakan sehingga Jaka Tingkir harus memanggil Ki Gede Pemanahan, Ki Juru Mertani dan Sutawijaya.

Dalam konflik politis dan militer itu. Akhirnya Arya Penangsang dapat dikalahkan dan dibunuh oleh Sutawijaya, prajurit andalan dan anak angkat Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir). Dalam pertempuran itu, Arya Penangsang tertombak lambungnya oleh tombak pusaka Kyai Plered. Konon, dalam kondisi kritis seperti itu, Arya Penangsang masih mampu “menyangsangkan,” (menyampirkan) uraian-uraian ususnya pada hulu kerisnya.

Menikah dengan Hj. Maimunah, KH. M. Mansur meempunyai 14 anak dan anak yang ke-10 bernama Muhammad Khozin Mansur. Adapun nama-nama saudara Muhammad Khozin Mansur yang dapat diidentifikasi adalah Khudhori, Ahmad, Shiratun, Ma’sum, Mas’amah, Minhaj, Nur Salim, Mu’minah. Selain menikah dengan Hj. Maimunah, KH. M Mansur menikah juga dengan Shofiyah. Pernikahan dengan istri kedua ini melahirkan anak antara lain Ruqoyyah, Yasin, Abdul Hadi.***

Top of Form