Mencari Jalan Kesempurnaan (2)

168 dibaca

Cerita ini menggambarkan watak (budi) manusia yang sempurna. Watak yang sempurna, yaitu yang bisa memuat kebaikan dan keburukan. Namun tidak melakukan keburukan.

Nasihat bijaknya: Manusia yang berwatak sempurna, adalah manusia yang terang serta telah berpisah dengan keburukan. Jika belum sempurna atau belum berpisah dengan keburukan, tentulah tidak akan bisa, dan mudah terpeleset. Sehingga yang wajib dilakukan oleh orang yang berusaha menggapai kesempurnaan harus hanya mengingat perbuatan baik saja. Tidak boleh menyeleweng untuk mengingat perbuatan buruk, walaupun baik dan buruk adalah milik Tuhan. Walaupun kasampurnan itu mengandung keburukan dan kebaikan, namun jalan menujunya hanya lewat kebaikan. Tidak bisa dicampur dengan perbuatan keburukan.

Orang yang bagus rupanya adalah yang baik warna. Semakin baik warnanya, maka semakin indah kepribadiannya. Namun, indahnya seseorang yang hanya dihiasi warna, masih kalah indah dari orang yang memiliki warna dan cahaya. Jadi, keindahan seseorang itu tergantung atas dua hal. Warna dan sinar. Oleh karena sudah jelas bahwa keindahan rupa tergantung dari ketinggian sinarnya dan keindahan warnanya.

Dalam ulasan sebelumnya disebutkan bahwa yang dinamakan warna adalah rahsa atau watak. Wujud rahsa adalah nyawa atau jiwa. Daya pengaruhnya menyebabkan manusia sering merasa. Merasa gembira, sedih, senang, benci, jahil, iri hati, sombong, heran, kecewa, takut, khawatir, dan sebagainya. Singkatnya, menyebabkan tiap manusia memiliki watak sendiri-sendiri, baik atau buruk.

Pengaruh rahsa yang menyebar bernama nafsu, itu bisa diibaratkan asap, sebab nafsu itu daya pengaruhnya adalah menyebabkan kegelapan atau mengotori cahaya. Wujud cahaya manusia itu adalah budi. Perilaku utama. Budi merupakan penerang yang memancar dari kegaiban. Menerangi semua nyawa sejak awal sampai dengan akhirnya.

Pada ulasan terdahulu dikatakan bahwa cahaya yang tidak berwarna ditetapkan lebih indah dibandingkan dengan cahaya yang mengandung warna. Mengapa bisa demikian? Disebabkan yang bisa mengeluarkan warna yang berbeda-beda itu, tidak lain hanya cahaya yang kosong (tidak berwarna, kosong tapi isi).

Hal ini hanyalah ibarat bagi manusia yang hatinya kosong (tanpa nafsu) artinya suci, rela hati, puas, ikhlas hati, sehingga daya hidupnya yang menghidupi nafsu akan berubah menjadi menghidupi budi. Budi pekertinya menjadi bening dan bercahaya sehingga nampak cahayanya yang mengagumkan, berwibawa, cerah.

Sehingga manusia yang hatinya telah kosong adalah lebih sempurna dibanding yang hatinya berisi rahsa. Sebab budi pekerti yang bisa memuat watak yang bermacam-macam, tidak lain adalah budi pekerti yang kosong (bersih). Manusia yang sudah di tingkat itu pun masih bisa marah, berkeinginan, menyenangi, mengasihi, membenci, dan sebagainya. Namun bukan berasal dari wataknya, hanya pada waktu yang tepat jika memang ada keperluan yang mendesak digunakan sebagai alat. Jika telah cukup keperluannya, maka kemudian dihilangkannnya. Tindakan itu atas bimbingan dan ajakan budi. Jika sudah berada dalam kekuasaan budi, maka menjadi tidak ada bedanya dengan berlian yang bisa bersinar merah, hijau, kuning, biru, dan bisa juga menghilangkan warnanya masuk ke dalam cahayanya.

Cak Yon Ngariono