Penyebar Agama Islam dari Cina

189 dibaca

Setelah mendarat di Pulau Jawa bersama Sam Poo Kong abad 14 M, Soen An Ing tidak mengikuti perjalanan ekspedisi ke negara lain bersama Laksamana Ceng Hoo. Namun menyebarkan agama Islam dan melakukan penyembuhan terhadap masyarakat yang sedang menderita sakit akibat kena pageblug.

Di Indonesia, ia melakukan perjalanan ke Kalimantan dan Sumatra. Tujuannya adalah untuk menyebarkan agama Islam. Di mana pun diterima masyarakat setempat. Karena memiliki kelebihan menyembuhkan orang yang terkena berbagai macam penyakit. Mereka yang tersembuhkan kemudian masuk Islam.

Suatu ketika dalam perjalanan singgah di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Ulama dari Cina tersebut melihat banyak masyarakat yang terkena serangan penyakit menular yang sulit disembuhkan. Maklum, kondisi sedang banyak peperangan dan lingkungan kurang sehat.

Didatangilah masyarakat yang terkena serangan penyakit menular itu. Atas izin Allah masyarakat yang terkena penyakit setelah diobati tersembuhkan dengan cepat. Dari sinilah banyak pula masyarakat yang masuk Islam secara sukarela setelah penyakitnya sembuh.

Masyarakat setempat kemudian memberikan tempat tinggal dengan tujuan agar tetap menjadi dokter bagi masyarakat setempat. Tepatnya di daerah Argorejo Semarang. Soen An Ing bersedia memenuhi permintaan masyarakat setempat dengan senang hati.

“Meskipun di Argorejo Semarang menjadi menyembuhkan penyakit yang menyerang masyarakat setempat. Namun ulama Cina muslim ini tetap pada misi awalnya menyebarkan agama Islam,” ungkap H. Mohammad Ali, tokoh masyarakat Jl Sri Kuncoro III No. 49 Semarang.

Tak beberapa lama para pengikutnya pun bertambah banyak. Khususnya orang-orang yang tersembuhkan penyakitnya. Di hadapan pengikutnya, ulama Cina muslim ini menyebut dirinya Soen An Ing. Kepandaian Soen An Ing dalam menyembuhkan penyakit dan menyebarkan agama Islam menjadikan ia terkenal di berbagai daerah Indonesia. Seperti Sumatra, Kalimantan, bahkan negeri Cina. Sehingga banyak sekali pengikut Soen An Ing yang berasal dari luar Tanah Jawa. Mengingat banyak orang luar Jawa jika singgah di Pelabuhan Tanjung Emas singgah ke tempat Soen An Ing guna melakukan pengobatan dan mengikuti kegiatan pengajian.

Malam Ritual

Makam Soen An Ing makin lama makin dikenal masyarakat Semarang. Kepandaian menyembuhkan penyakit dan kepopulerannya dalam menyebarkan agama Islam mendorong masyarakat untuk berziarah ke makam Soen An Ing. Para peziarah yang datang tak hanya masyarakat Semarang, tiap ada peziarah yang berasal dari Kalimantan, Jawa Timur, Negeri Cina, Thailan, bahkan dari Australia.

Masyarakat kesulitan menyebut makam Soen An Ing yang terkenal itu. Kemudian menyebutnya dengan nama Makam Tepis Wiring Mbah Sunan Kuning atau Makam Sunan Kuning (SK). Itu berawal dari kesulitan lidah Jawa yang melafalkan Soen An Ing. Agar mudah diucapkan menjadi Sunan Kuning.

Sedangkan di bangunan utama yang lebih besar di dalamnya juga terdapat tiga makam. Ketiga makam itu diberi kuncup atau rumah-rumahan dari kelambu. Ketiga makam itu adalah makam Sunan Kuning, makam Sunan Kali, dan makam Sunan Ambarawa. Di depan ketiga makam itu ditempatkan empat patung orang Cina.

Di dalam kompleks pemakaman Sunan Kuning terdiri atas tiga bangunan yang berbentuk seperti rumah. Bangungan pertama sebelah kanan setelah masuk gerbang makam diperuntukkan bagi peziarah yang akan bermalam. Sedangkan bangunan kedua yang ada di tengah terdapat tiga makam. Ketiga makam itu adalah makam Kiai Sekabat, makam Kiai Djimat, dan makam Kiai Majapahit. Ketiganya adalah para pembantu setia Sunan Kuning. Menurut juru kunci makam, Mbah Tomo (59), para peziarah dalam melakukan ritual sembahyangan berbeda antara satu dengan yang lainnya.

Menurut Mbah Tomo ada hari-hari tertentu untuk berdoa minta sesuatu. Malam Selasa Kliwon, Rebo Legi, dan Kamis Paing dikhususkan untuk berdoa meminta pengasihan. Malam Rabo Pon, Kamis Wage, dan Jumat Pon untuk meminta kekuatan. Hari Kamis Legi, Jumat Kliwon, Sabtu Legi untuk berdoa minta kenaikan pangkat atau derajat. Malam Sabtu Kliwon, Minggu Legi, Senin Paing untuk rezeki, sandang pangan atau nomor. Sedangkan Jumat Paing, Sabtu Pon, Minggu Wage untuk puter giling.

Sebelum tahun 1963 makam Sunan Kuning sebagai tokoh Cina muslim penyebar agama Islam masih terjaga citranya seantero dunia. Masih banyak peziarah yang datang ke makam Sunan Kuning. Namun memasuki tahung 1963 nama harum makam Soen An Ing tercoreng negatif dengan ditetapkan daerah Argorejo sebagai daerah Resosialisasi Pekerja Seks Komersial (PSK).HUSNU MUFID