Falsafah Kehidupan : Harta Hanyalah Sarana

181 dibaca

 

Orang yang memiliki timbunan banyak harta, maka merasa lebih ada, dan menjadi dua kali bahkan tiga kali ada. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki timbunan harta, merasa tidak ada. Itulah sebabnya mengapa banyak orang membanting tulang untuk mendapatkan harta, dan ditimbun.

Di dalam pergaulan yang sifatnya persaingan, timbunan harta melahirkan tingkat pangkat dan kekuasaan. Bila timbunan hartanya tinggi, orang yang bersangkutan menjadi tinggi pangkat kedudukannya dan kekuasaannya. Maka di dalam pertemuan-pertemuan orang yang punya timbunan banyak harta merasa gagah, sedang yang timbunannya sedikit merasa kecil. Yang merasa lebih kecil lagi ialah orang yang punya banyak timbunan utang.

Di dunia ini, makhluk yang suka menimbun harta ada tiga. Yang pertama adalah manusia. Yang kedua tikus, dan yang ketiga semut. Tikus dan semut suka menimbun makanan di sarangnya. Sedangkan manusia, bukan hanya bahan makanan, tetapi juga harta benda lainnya.

Walaupun tidak berharta, orang miskin ingin juga punya timbunan harta. Orang miskin sering merencanakan tindakannya jika bisa menjadi orang kaya, “Bila saya menjadi orang kaya, saya pasti suka beramal dan tidak kikir seperti si Anu.” Memang sifat orang miskin suka meramal di dalam gagasan.

Harta ialah kebutuhan raga. Jika rasa enak itu dilekatkan atau digantungkan pada harta, orang menjadi bersenyawa dengan harta miliknya. Bila orang itu bersenyawa dengan harta miliknya, harta itu menjadi kebutuhan jiwa, yang berarti harta yang tidak digunakan semestinya.

Jika harta menjadi kebutuhan jiwa, ia menimbulkan pertengkaran di dalam diri sendiri, pertengkaran di dalam keluarga, dan pertengkaran di dalam masyarakat. Pertengkaran di dalam diri berupa bentrokan antara pemilihan penggunaan harta. Bentrokan pemilihan itulah yang menyebabkan ketidakpuasan.

Pertengkaran di dalam keluarga berwujud bentrokan mengenai anggaran belanja. Anaknya gemar barmain tablet yang membutuhkan pulsa, istrinya gemar belanja pakaian, dan ayahnya suka merokok. Maka pulsa, pakaian, dan rokok bertarung.

Sedangkan pertengkaran di dalam masyarakat berwujud bentrokan tentang undang-undang mengenai pembagian harta dan pekerjaan. Orang miskin menuntut supaya harta dibagi rata, dan orang kaya menuntut supaya orang rajin dan tekun bekerja agar mendapatkan bagian harta yang banyak. Maka bentrokan antara orang miskin dan orang kaya adalah masalah pendapatan.

Demikianlah jika harta menjadi kebutuhan jiwa, ia menimbulkan bentrokan. Harta menjadi kebutuhan jiwa karena orang takut melihat diri sendiri, perasaan sendiri. Yang kaya takut melihat rasa orang kaya, yang miskin takut melihat rasa orang miskin. Tetapi bila orang tahu rasa diri sendiri, baik miskin maupun kaya, maka harta tidaklah menjadi kebutuhan jiwa.

 

Mancari Harta

Bagaimanakah agar mendapatkan harta yang banyak, dan menjadi kaya? Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu mengubah nasibnya sendiri! Bagaimana cara mengubah nasib? Kiatnya gampang. Harus mengubah dirinya sendiri. Meningkatkan kualitas dirinya sendiri.

Jika saat ini bekerja menjadi kuli bangunan, hendaknya ditingkatkan agar menjadi tukang. Jika sudah menjadi tukang, jangan berpuas hati. Harus ditingkatkan agar menjadi mandor atau pengawas. Harus belajar hitung-hitungan. Belajar kontruksi. Waktu jangan disia-siakan, dipergunakan untuk belajar. Sekolah, kuliah, dan seterusnya. Maka, dari pengawas bisa meningkat menjadi pemborong. Dari pemborong ditingkatkan menjadi kontraktor. Membuat proposal, ikut tender, dan lain-lain. Tentu saja hasil yang didapat berbeda. Jauh lebih besar. Bukan saja menjadi jutawan, tetapi miliarder.

Jika menjadi buruh di pabrik, juga harus ditingkatkan. Jangan hanya puas menerimah upah atau gaji. Tetapi berusaha menjadi bos yang menggaji. Berbekal pengalaman, harus mendirikan perusahaan sendiri. Tentu saja tidak melupakan ikhtiar batin atau spiritual. Berdoa siang dan malam. Insya Allah Tuhan mengabulkan. Sehingga jika semula menjadi pekerja, berubah menjadi yang mempekerjakan.

Uang hasil jerih payah hendaknya tidak dihambur-hamburkan. Tidak boros. Mempergunakan uang sedikit, sesuai kebutuhan sehari-hari. Tak perlu membeli barang-barang mewah yang sifatnya konsumtif, apalagi tidak berguna. Selebihnya hendaknya ditabung. Jika punya banyak simpanan uang, jangan membeli barang yang kurang manfaatnya, lebih baik membeli tanah atau emas, yang nilainya bisa meningkat. Kalau membeli mobil (misalnya) nilainya tentu menyusut. Kalau membutuhkan mobil, tidak perlu yang mewah, tetapi standar sesuai kebutuhan.

Itulah kiat-kiat orang-orang kaya yang dulunya miskin. Kerja keras, hemat, dan sederhana.

Yang harus diperhatikan, ada sebuah pesan dari ulama sufi mashur, Syeikh Ibnu Arabi. Orang alim di Baghdad ini pernah membayar utang negaranya. Bahkan setiap tahun membagikan 200 ribu ton bahan makanan kepada masyarakat. Begitu kayakah ia? Memang! Ia mengistilahkan sumber mata air. Jika ingin menjadi orang kaya, setidaknya harus memiliki 7 (tujuh) sumur kehidupan. Artinya, setidaknya memiliki 7 sumber yang menghasilkan uang. Yaitu memiliki 7 bidang usaha. Dengan 7 macam usaha, maka tidak akan goyah. Bila yang satu mulai redup, yang 6 berjalan, sehingga bisa menyehatkan yang sakit. Begitu seterusnya, sehingga pundi-pundi rupiah terkumpul. Yon Ngariono.